Krisis Global Hantam RI, Prof. Rokhmin Dahuri: Sektor Riil Jadi Benteng Terakhir Penyelamat Ekonomi Nasional
ASKARA – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelemahan nilai tukar, dan ancaman inflasi, sektor riil dinilai menjadi pilar utama yang menjaga ketahanan ekonomi Indonesia. Hal ini ditegaskan Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS dalam berbagai forum ekonomi nasional sepanjang 2024-2026.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu menyebut, pengalaman krisis 1998 dan pandemi Covid-19 membuktikan bahwa sektor yang menyentuh langsung hajat hidup orang banyak — pertanian, perikanan, kehutanan, manufaktur, dan UMKM — jauh lebih tangguh dibanding sektor keuangan yang rentan gejolak.
“Ketika bursa saham anjlok dan hot money keluar, pabrik tetap produksi, sawah tetap ditanam, nelayan tetap melaut. Ekonomi kita selamat karena sektor riil masih jalan,” ujar Prof. Rokhmin, dikutip dari beberapa pernyataannya di DPR RI dan seminar nasional.
Mengapa Sektor Riil Krusial
Berdasarkan data yang dihimpun dari BPS, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia, kontribusi sektor riil terhadap stabilitas ekonomi nasional terlihat jelas:
1. Penopang Tenaga Kerja Nasional
Data BPS 2025 mencatat 96,8% tenaga kerja Indonesia terserap di sektor riil. Pertanian menyerap 28,6%, manufaktur 14,2%, dan UMKM menyerap 97% dari total tenaga kerja. “Satu investasi hilirisasi nikel di Morowali bisa serap 15 ribu tenaga kerja langsung. Ini efek ganda yang tidak dimiliki sektor keuangan,” kata Prof. Rokhmin saat Rapat Dengar Pendapat dengan Kementerian Perindustrian.
2. Penyumbang Devisa Non-Spekulatif
Kementerian Perdagangan mencatat, ekspor sektor riil menyumbang 92% total ekspor Indonesia 2025. Hilirisasi minerba seperti nikel, bauksit, dan tembaga menghasilkan devisa USD 54,3 miliar. Ekspor produk pertanian dan perikanan mencapai USD 48,1 miliar. “Devisa dari sektor riil itu riil, bukan angka-angka di pasar modal yang bisa hilang dalam sehari,” tegasnya dalam diskusi di TVR Parlemen.
3. Penjaga Inflasi Pangan dan Energi
Saat El Nino 2023-2024 mengerek harga pangan global, inflasi Indonesia tetap terjaga di 2,84% pada Mei 2026 karena produksi beras, jagung, dan cabai dalam negeri meningkat. Prof. Rokhmin menyebut ini buah dari program modernisasi pertanian. “Kalau kita masih impor beras 3 juta ton seperti 1998, inflasi kita bisa tembus 10%,” ujarnya di Forum Kedaulatan Pangan.
4. Terbukti Tahan Krisis
Saat pandemi 2020, BPS mencatat PDB sektor pertanian tetap tumbuh 1,75% ketika 15 sektor lain kontraksi. Pada krisis 1998, UMKM yang jumlahnya 99,9% dari unit usaha menjadi bantalan ekonomi saat korporasi besar kolaps. “Sejarah sudah bicara. Jangan dilawan,” kata Prof. Rokhmin dalam seminar di Lemhannas.
5 Langkah Strategis Perkuat Sektor Riil
Merangkum dari berbagai pidato dan tulisannya, Prof. Rokhmin mendorong 5 langkah prioritas:
1. Hilirisasi Total, Jangan Setengah Hati
Menurutnya, larangan ekspor nikel mentah harus direplikasi ke 21 komoditas lain, termasuk CPO, karet, kakao, rumput laut, dan hasil hutan. “Kita harus ekspor furniture, bukan kayu gelondongan. Ekspor margarin, bukan CPO mentah. Nilai tambah 8-10 kali lipat harus tinggal di RI.”
2. Revolusi Teknologi di Sektor Primer
Ia mendorong masifikasi mekanisasi pertanian, digitalisasi tambak, dan penggunaan bibit unggul. “Petani kita masih pakai cangkul, nelayan pakai perahu kecil. Sementara Thailand dan Vietnam sudah pakai drone dan IoT. Kalau mau saing, harus modern.”
3. Reformasi Pembiayaan: Kredit Murah untuk Produksi
Prof. Rokhmin mengkritik porsi kredit perbankan ke sektor produktif yang hanya 20%. Ia mengusulkan bunga KUR maksimal 3% untuk pertanian-perikanan, dengan skema credit scoring berbasis klaster, bukan agunan tanah. “Bank harus ubah mindset. Biayai orang yang mau tanam, bukan yang mau beli ruko.”
4. Berantas Biaya Logistik Tinggi
Data Bappenas 2025 menyebut biaya logistik Indonesia masih 22,7% dari PDB, tertinggi di ASEAN. “Gimana mau saing kalau kirim ikan dari Maluku ke Jakarta lebih mahal dari kirim ke China? Tol laut, cold chain, dan jalan produksi harus jadi prioritas APBN,” desaknya.
5. Proteksi Pasar Domestik dari Impor Predator
Ia meminta Kemendag menertibkan impor ilegal dan cross-border e-commerce yang membunuh UMKM. “Produk garmen, sepatu, elektronik UMKM kita mati bukan karena kualitas jelek, tapi karena kalah harga dengan barang impor yang tidak bayar pajak.”
Jangan Ulangi Kesalahan Orde Baru
Dalam bukunya “Pembangunan Ekonomi Maritim dan Pertanian”, Prof. Rokhmin mengingatkan kesalahan fatal 1998: ekonomi digerakkan utang luar negeri dan sektor non-riil. “Saat itu 80% kredit bank ke properti dan pasar uang. Begitu dolar naik, semua rontok. Sekarang kita harus kembali ke ekonomi yang produce goods, bukan produce paper.”
Ia optimistis, jika sektor riil diperkuat, target pertumbuhan 7-8% menuju Indonesia Emas 2045 sangat realistis. “Kuncinya ada di desa, di laut, di pabrik. Di sanalah nyawa ekonomi Indonesia.”
Penutup
Seruan Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 ini sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk menggenjot hilirisasi dan kemandirian pangan-energi. Namun, ia menekankan, kebijakan di atas kertas harus dieksekusi dengan political will kuat dan bebas dari kepentingan kartel. “Sektor riil itu bukan soal teori. Ini soal perut 280 juta rakyat,” pungkasnya. (Dari berbagai sumber)

Komentar