Rabu, 10 Juni 2026 | 00:57
OPINI

Menumbuhkan Komitmen Belajar Melalui Kesepakatan Kelas Buatan Murid Sendiri

Menumbuhkan Komitmen Belajar Melalui Kesepakatan Kelas Buatan Murid Sendiri
Guru mendampingi murid menulis kesepakatan kelas dengan kertas warna-warni. (Dok Fahrur)

Oleh: Fahrur Rozi, S.Pd.SD
(Guru SDN Pilangsari, Sayung, Demak)

ASKARA - Sebentar lagi tahun ajaran baru akan tiba. Bagi kita para pendidik, momen ini bukan sekadar urusan membagikan buku teks baru atau menata ulang bangku, melainkan waktu terbaik untuk membangun fondasi budaya positif di lingkungan belajar. Salah satu langkah awal yang paling krusial namun sering kali terlewatkan adalah bagaimana kita menetapkan aturan main di dalam kelas. Di SDN Pilangsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, kami memilih meninggalkan cara-cara lama dan beralih menggunakan ruang ini untuk merajut kesepakatan kelas bersama.

Mengapa membuat kesepakatan kelas menjadi begitu penting? Jika umumnya peraturan kelas dibuat secara sepihak oleh guru, murid cenderung melaksanakannya dengan setengah hati karena merasa terbebani oleh paksaan eksternal. Namun, ketika aturan itu lahir dari pemikiran mereka sendiri, akan tumbuh rasa memiliki. Mereka akan jauh lebih sungguh-sungguh mengikuti dan menjaga komitmen yang telah mereka sepakati bersama.

Lebih dari sekadar kepatuhan, proses ini memuat nilai-nilai karakter yang sangat kaya. Kami sedang mengajarkan murid untuk berani berpendapat sejak dini, menghargai perbedaan isi kepala orang lain, belajar bernegosiasi, hingga melatih tanggung jawab moral atas pilihan yang mereka ambil.

Di kelas yang saya ampu, peran guru sepenuhnya bergeser menjadi pendamping dan pengarah (fasilitator), bukan penguasa tunggal yang mendikte. Proses pembuatan kesepakatan ini dilakukan melalui empat tahapan sederhana yang bermakna.

1. Penyampaian Pemahaman Awal

Saya mengawali sesi dengan mengajak anak-anak berdialog mengenai kelas impian mereka. Saya sampaikan secara terbuka bahwa kita akan membentuk kesepakatan bersama agar kelas menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk belajar sepanjang tahun.

2. Menulis Tanpa Nama (Anonymous Voice)

Untuk memberikan ruang aman tanpa intimidasi, saya membagikan potongan kertas berwarna. Setiap murid diminta menuliskan satu hingga dua aturan atau harapan yang mereka inginkan di kelas tersebut tanpa perlu menuliskan nama mereka.

Strategi tanpa nama ini sangat ampuh memicu murid yang pemalu sekalipun untuk jujur menuangkan isi pikirannya.

3. Aklamasi dan Penyaringan Bersama

Setelah seluruh kertas terkumpul, saya membacakan setiap tulisan tersebut di depan kelas. Di sinilah proses diskusi yang hangat terjadi. Kami menyortir gagasan-gagasan yang serupa, memperhalus kalimatnya menjadi kalimat positif, misalnya mengubah kalimat “Jangan berisik” menjadi “Saling menghargai saat teman berbicara” hingga akhirnya memilih poin-poin utama yang disetujui secara aklamasi oleh seluruh kelas.

4. Visualisasi di Dinding Kelas

Poin-poin yang telah disepakati kemudian ditulis rapi dan ditempelkan di tempat yang mudah dilihat oleh semua orang. Proses penempelan ini dilakukan bersama-sama oleh anak-anak sehingga mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap kesepakatan yang telah dibuat.

Kesepakatan kelas yang sudah dipajang di dinding ini tidak bersifat kaku atau harga mati. Aturan main tersebut berlaku selama satu semester, namun sifatnya tetap kondisional. Artinya, aturan ini dapat dievaluasi kembali di tengah jalan sesuai dinamika kelas yang terjadi. Jika ada poin yang dirasa kurang efektif atau membutuhkan penyesuaian, kami akan duduk bersama lagi untuk merevisinya.

Melalui lembaran-lembaran kertas warna-warni yang menempel di dinding kelas, kami sedang belajar menghidupkan miniatur demokrasi. Berada di daerah pinggiran bukan alasan untuk tidak mengenalkan prinsip-prinsip disiplin positif yang memerdekakan.

Ketika murid merasa suaranya didengar dan dihargai, mereka tidak lagi melihat aturan sebagai borgol pembatas, melainkan sebagai komitmen bersama untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Selamat menyambut tahun ajaran baru. Mari kita mulai langkah pertama dari ruang kelas kita sendiri.

 

Komentar