Selasa, 09 Juni 2026 | 12:13
NEWS

Urban Farming di Panti Sosial Jakarta Timur, Menanam Harapan di Tengah Keterbatasan

Urban Farming di Panti Sosial Jakarta Timur, Menanam Harapan di Tengah Keterbatasan
Anak Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 3 mendapat pelukan hangat dari Dinas Sosial DKI Jakarta (Dok Askara)

ASKARA - Di sudut halaman Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 3, Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, deretan tanaman hijau tumbuh subur dalam polybag, rak vertikultur, hingga instalasi hidroponik sederhana. Bagi sebagian orang, kebun kecil ini mungkin hanya sekadar area bercocok tanam. Namun bagi para penghuni panti, tempat ini menjadi ruang belajar, berbagi, sekaligus menumbuhkan harapan.

Program urban farming atau pertanian perkotaan yang dikembangkan di panti yang berlokasi di Jalan Swadaya Raya, Duren Sawit, Jakarta Timur, tidak hanya bertujuan menghasilkan sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat keluarga. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana pembentukan karakter, terapi psikologis, dan bekal keterampilan yang dapat berguna di masa depan.

Setiap hari, para penghuni panti terlibat langsung dalam berbagai aktivitas, mulai dari menyemai benih, menyiram tanaman, merawat pertumbuhan, hingga memanen hasilnya. Proses sederhana tersebut menghadirkan pengalaman berharga yang tidak selalu mereka dapatkan di ruang kelas.

Kepala Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 3, Ratu Dian Cherrawati, mengatakan bahwa urban farming telah memberikan dampak positif yang jauh melampaui hasil panen yang diperoleh.

"Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar tentang proses, kesabaran, dan tanggung jawab. Mereka melihat sendiri bagaimana benih yang kecil bisa tumbuh menjadi tanaman yang bermanfaat. Dari situ tumbuh rasa percaya diri dan kebanggaan atas apa yang mereka kerjakan," ujarnya, Senin (8/6/2026).

Menurut Ratu Dian, kegiatan berkebun juga menciptakan suasana yang lebih hangat dan menyenangkan di lingkungan panti. Saat bekerja bersama merawat tanaman, para penghuni belajar saling membantu, berkomunikasi, dan membangun kebersamaan.

Tak hanya itu, aktivitas yang dekat dengan alam ini juga terbukti memberikan efek positif bagi kesehatan mental. Kesibukan merawat tanaman membantu mengurangi kejenuhan dan stres, sekaligus menghadirkan rasa tenang bagi para penghuni.

"Berkebun menjadi salah satu bentuk terapi yang sederhana tetapi efektif. Anak-anak merasa lebih rileks, lebih fokus, dan memiliki aktivitas positif yang mereka nantikan setiap hari," tambahnya.

Hasil panen dari kebun urban farming tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari di lingkungan panti. Sayuran segar yang dipetik langsung dari kebun menjadi bagian dari menu makanan para penghuni, sekaligus membantu mengurangi biaya operasional.

Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, program ini membuktikan bahwa ruang sempit pun dapat disulap menjadi area produktif yang memberi manfaat besar. Dengan metode yang sederhana dan biaya yang relatif terjangkau, urban farming menjadi solusi nyata untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan sosial.

Bagi Ratu Dian, yang paling penting bukanlah seberapa banyak hasil panen yang diperoleh, melainkan nilai-nilai kehidupan yang tumbuh bersama tanaman-tanaman tersebut.

"Kami ingin anak-anak memiliki bekal keterampilan dan kemandirian. Dari kebun kecil ini, mereka belajar bahwa setiap usaha membutuhkan proses, dan setiap proses akan menghasilkan sesuatu yang berharga jika dijalani dengan tekun," katanya.

Melalui program urban farming, Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 3 tidak hanya menanam sayuran dan buah-buahan, tetapi juga menanam optimisme, kemandirian, dan semangat untuk menatap masa depan yang lebih baik.

 

Komentar