Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:27
NEWS

Lentera Hijau Indonesia: Krisis Iklim Tak Bisa Diselesaikan Tanpa Kesadaran Spiritual

Lentera Hijau Indonesia: Krisis Iklim Tak Bisa Diselesaikan Tanpa Kesadaran Spiritual
Fasilitator Nasional Lentera Hijau Indonesia, Dr. Syahrul Ramadhan, saat hadir sebagai pembicara dalam Seminar Lingkungan Hidup bertema “Mengarusutamakan Isu Lingkungan dalam Gerakan Berkemajuan” (Dok Lentera Hijau)

ASKARA - Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan berbagai bencana ekologis yang terjadi di berbagai daerah, peran agama dinilai perlu diperkuat sebagai bagian dari solusi menjaga kelestarian lingkungan.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Seminar Lingkungan Hidup bertema “Mengarusutamakan Isu Lingkungan dalam Gerakan Berkemajuan” yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Serang dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Serang, Rabu (3/6/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Deputi Direktur WALHI Tubagus Soleh Ahmadi, Fasilitator Nasional Lentera Hijau Indonesia Syahrul Ramadhan, serta aktivis lingkungan N.P. Rahadian dari Rekonvasi Bumi. Seminar diikuti unsur Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah, kalangan akademisi, mahasiswa, dan pegiat lingkungan.

Dalam paparannya, Syahrul Ramadhan menilai krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak hanya berkaitan dengan kerusakan alam semata, tetapi juga berakar pada hilangnya kesadaran moral dan spiritual manusia dalam memandang alam.

“Krisis iklim sesungguhnya bukan hanya krisis lingkungan, melainkan krisis spiritual. Karena itu, agama tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.

Menurut Syahrul, berbagai pendekatan teknis seperti regulasi, teknologi, dan investasi memang penting dalam mengatasi persoalan lingkungan. Namun upaya tersebut tidak akan cukup tanpa perubahan cara pandang manusia terhadap alam.

Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, manusia diberikan amanah sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan mencegah kerusakan lingkungan.

“Menjaga bumi bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual. Ketika manusia memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi ekonomi, maka kerusakan menjadi sesuatu yang dianggap biasa,” katanya.

Sementara itu, Deputi Direktur WALHI, Tubagus Soleh Ahmadi, menyoroti berbagai persoalan lingkungan yang masih dihadapi masyarakat, mulai dari banjir, pencemaran sungai, hingga dampak perubahan iklim yang semakin terasa.

Menurutnya, berbagai bencana ekologis yang terus berulang tidak dapat dilepaskan dari persoalan tata kelola sumber daya alam yang masih memerlukan pembenahan serius.

“Kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini bukan semata-mata akibat faktor alam. Ada persoalan tata kelola sumber daya alam yang harus diperbaiki secara serius,” ujarnya.

Aktivis lingkungan N.P. Rahadian menambahkan bahwa tantangan lingkungan di Kota Serang dan wilayah Banten membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar upaya perbaikan tidak berhenti pada tingkat kebijakan semata.

Dalam kesempatan itu, Syahrul juga mengutip pemikiran cendekiawan Muslim Sayyed Hossein Nasr yang menyatakan bahwa jika dahulu manusia berusaha menyelamatkan diri dari alam, maka saat ini justru alam yang perlu diselamatkan dari perilaku manusia.

Karena itu, ia mendorong rumah-rumah ibadah untuk berperan lebih aktif sebagai pusat edukasi lingkungan melalui khotbah, pengajian, pendidikan, maupun gerakan sosial berbasis keagamaan.

Menurutnya, krisis iklim merupakan persoalan bersama yang dampaknya dirasakan seluruh umat manusia tanpa memandang agama maupun latar belakang sosial.

“Bumi adalah rumah bersama. Ketika nilai-nilai agama diterjemahkan menjadi aksi nyata, maka kita tidak hanya membangun kesadaran, tetapi juga menghadirkan perubahan yang nyata bagi lingkungan,” tuturnya.

Melalui seminar tersebut, Muhammadiyah Kota Serang berharap isu lingkungan dapat menjadi bagian penting dari gerakan dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, menjaga bumi dipandang sebagai tanggung jawab moral yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.

“Ketika iman bertemu tindakan, harapan untuk menyelamatkan bumi akan selalu ada,” pungkas Syahrul Ramadhan.

 

Komentar