Kamis, 18 Juni 2026 | 00:54
NEWS

Kyai Said Aqil: Hawa Nafsu Lebih Sulit Dilawan daripada Godaan Setan

Kyai Said Aqil: Hawa Nafsu Lebih Sulit Dilawan daripada Godaan Setan
Kyai Said Aqil (Dok Panca)

ASKARA - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj, mengingatkan umat Islam agar senantiasa waspada terhadap dorongan hawa nafsu yang menurutnya merupakan tantangan terbesar dalam kehidupan manusia.

Dalam tausiyahnya, Kyai Said menjelaskan bahwa inspirasi atau dorongan yang masuk ke dalam diri manusia berasal dari empat sumber yang berbeda, yakni dari Allah, malaikat, setan, dan hawa nafsu manusia itu sendiri.

Menurutnya, inspirasi yang datang dari Allah disebut hidayah dan selalu mengarahkan manusia kepada kebaikan.

“Kalau datang dari Allah namanya hidayah. Hidayah pasti mendorong manusia untuk berbuat baik,” ujar Kyai Said dalam keterangan yang diterima, Minggu (30/5).

Sementara itu, inspirasi yang berasal dari malaikat berupa ilmu pengetahuan, kecerdasan, serta pemahaman yang membimbing manusia menuju kebijaksanaan.

Adapun dorongan yang berasal dari setan disebut wasawis atau waswas, yakni bisikan yang mengajak manusia melakukan penyimpangan. Namun, menurut Kyai Said, godaan semacam itu masih relatif lebih mudah dilawan.

“Yang paling sulit justru hawajis, yaitu dorongan hawa nafsu kita sendiri,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang melakukan perbuatan jahat secara terencana, sistematis, dan rapi, hal tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh godaan setan, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu yang ada dalam dirinya.

Menurut Kyai Said, tarikan hawa nafsu atau hawajis nafsaniyah selalu hadir di mana pun manusia berada, baik di rumah, kantor, maupun di tempat-tempat ibadah.

“Di mana pun kita berada selalu ada tarikan hawajis nafsaniyah. Itulah yang paling sulit untuk kita lawan,” ujarnya.

Kyai Said menambahkan bahwa hanya orang-orang yang memiliki kebijaksanaan dan telah mencapai tingkat ma'rifat yang mampu mengendalikan dorongan hawa nafsu tersebut. Mereka, kata dia, telah merasakan keindahan iman, ihsan, dan kedekatan dengan Allah SWT.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa sebesar apa pun dosa manusia dan sekuat apa pun godaan hawa nafsu, pintu taubat selalu terbuka.

“Dosa manusia sebanyak apa pun tetap bisa dihitung. Tetapi maghfirah atau ampunan Allah tidak terbatas. Kasih sayang dan ampunan-Nya melampaui segala dosa hamba-Nya,” tuturnya.

Karena itu, Kyai Said mengajak umat Islam untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT serta terus berupaya memperbaiki diri, menjaga keimanan, melawan dorongan hawa nafsu, dan kembali kepada Allah dengan hati yang tulus.

“Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri, melawan tarikan hawajis nafsaniyah, menjaga iman, dan kembali kepada Allah dengan hati yang ikhlas,” pungkasnya.

 

Komentar