Senin, 20 Juli 2026 | 21:00
OPINI

Mozart dan Jalak

Mozart dan Jalak
Ilustrasi Mozart dan Jalak (Dok Gemini)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Satu di antara lagu ciptaan Ibu Sud yang paling saya gemari berjudul Burung Kutilang:

Di pucuk pohon cempaka / burung kutilang berbunyi / bersiul-siul sepanjang hari / dengan tak jemu-jemu / mengangguk-angguk sambil berseru / trilili lili lilili.

Jenis burung yang pandai bersiul lagu bukan hanya burung kutilang, namun juga burung kenari dan burung beo yang merdu bersiul melodi awal Indonesia Raya. Burung memang tersohor mahir berkomunikasi dengan sesama burung maupun manusia dengan bahasa musik. Saya pernah punya burung betet yang gemar berkomunikasi bukan hanya dengan manusia, namun juga anjing dan kucing dalam bahasa mereka sendiri, bahkan meniru bahasa manusia, termasuk maknanya.

Pada tanggal 27 Mei tahun 1784, Wolfgang Amadeus Mozart berjumpa seekor burung jalak di pasar burung kota Salzburg. Burung jalak tersebut dianggap istimewa oleh Mozart sebab mahir bersiul melodi tema bagian ketiga Konserto Pianoforte Nomor 17 dalam G mayor.

Sang burung jenius dibeli oleh komponis jenius untuk menjadi satwa kesayangan Mozart dan diberi nama Leopold, nama ayah kandung Mozart yang berjasa (atau berdosa?) membina Mozart sehingga menjadi komponis dan pianis terkemuka era Klasik Wina, sejaman para putra Johann Sebastian Bach.

Selama tiga tahun, jalak Leopold setia menemani Mozart dalam menempuh perjalanan kreativitas musik di garda terdepan musik abadi dunia, jauh sebelum The Beatles, Elvis, atau Beyonce, apalagi Taylor Swift.

Terkesan Mozart lebih akrab dengan jalak Leopold ketimbang ayahnya sehingga tidak hadir pada pemakaman Leopold Mozart. Namun Mozart menyelenggarakan upacara pemakaman lengkap dengan puisi epitaf yang didedikasikan khusus bagi Leopold si jalak. Bukan mustahil tokoh opera Zauberflöte bernama Papageno yang berkostum mirip burung sambil menenteng sangkar berisi burung-burung terinspirasi dari jalak Mozart bernama Leopold.

Dua abad setelah Leopold Mozart maupun Leopold si jalak almarhum, seorang pemikir ekologis dan naturalis bernama Lyanda Lynn Haupt menyelamatkan hidup seekor bayi burung jalak sehingga berkesempatan untuk lebih dekat mempelajari sikap, perilaku, serta kecerdasan burung jalak yang sempat memesona Mozart.

Hasil riset dan pengalaman Haupt tertuang apik di dalam buku berjudul Mozart’s Starling. Redaksi Amazon.com memberi ulasan:

"In Mozart's Starling, Haupt explores the unlikely and remarkable bond between one of history's most cherished composers and one of earth's most common birds. The intertwined stories of Mozart's beloved pet and Haupt's own starling provide an unexpected window into human-animal friendships, music, the secret world of starlings, and the nature of creative inspiration. A blend of natural history, biography, and memoir, Mozart's Starling is a tour de force that awakens a surprising new awareness of our place in the world."

Formasi terbang burung jalak yang dinamis serta dramatis disebut murmurasi, yakni ketika ribuan burung jalak terbang bersama membentuk pola-pola menakjubkan seperti gelombang atau pusaran di angkasa. Formasi ini bertujuan melindungi diri dari predator, menghemat energi saat migrasi, serta berbagi informasi makanan, dengan setiap burung mengikuti tetangganya melalui aturan sederhana yang menciptakan gerakan akrobatis serempak luar biasa dramatis di udara. Bentuk formasi murmurasi kerap kali dianggap mirip aurora.

Burung jalak juga merupakan pemeran pembantu utama dalam film drama-komedi filosofis The Starling yang disutradarai Theodore Melfi dan dibintangi Melissa McCarthy bersama Kevin Kline. Film tersebut menghayati makna dan matra kearifan etho-ekologis yang bisa dipetik dari jalinan hubungan manusia dengan lingkungannya, termasuk dengan burung jalak.

 

Komentar