Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:05
NEWS

Harga Daging Rp170 Ribu, Aceh Tengah Diminta Kembali Jadi Zona Ternak

Harga Daging Rp170 Ribu, Aceh Tengah Diminta Kembali Jadi Zona Ternak
Pedagang daging di Pasar Takengon, Azhar, dan Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Aceh Tengah, Zam Zam Mubarak (Dok Askara)

ASKARA - Harga daging sapi di Aceh Tengah menembus Rp170 ribu per kilogram. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat karena dinilai mengancam daya beli warga sekaligus kebutuhan gizi keluarga di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Pedagang daging di Pasar Takengon, Azhar, mengatakan lonjakan harga dipicu minimnya stok ternak lokal dan tingginya biaya distribusi dari luar daerah. Menurutnya, selama ini pasokan sapi banyak didatangkan dari Medan karena populasi ternak di Aceh Tengah terus menurun.

“Daging mahal bukan karena pedagang ingin untung besar. Hewannya memang susah dicari. Kami harus datangkan dari luar Aceh, sementara ongkos kirim tinggi dan akses jalan juga banyak yang rusak,” ujar Azhar saat berdialog dengan Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Aceh Tengah, Zam Zam Mubarak, Minggu (24/5).

Azhar menilai Aceh Tengah sebenarnya memiliki sejarah panjang sebagai kawasan peternakan sapi di Aceh. Namun, pascabencana dan lemahnya perhatian terhadap sektor peternakan, populasi ternak terus menyusut hingga daerah bergantung pada pasokan luar.

“Dulu Aceh Tengah dikenal sebagai zona ternak. Sekarang justru tergantung dari luar daerah. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, masyarakat akan semakin sulit mendapatkan protein hewani dengan harga terjangkau,” katanya.

Ia menegaskan harga Rp170 ribu per kilogram sudah berada di luar batas normal dan berpotensi menimbulkan persoalan ketahanan pangan masyarakat.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Dekopinda Aceh Tengah, Zam Zam Mubarak, meminta pemerintah segera mengambil langkah serius untuk menghidupkan kembali sektor peternakan rakyat.

“Aceh Tengah punya lahan luas dan iklim yang sangat cocok untuk pengembangan ternak. Kita harus mengembalikan daerah ini sebagai zona ternak agar ekonomi desa bergerak dan harga daging kembali stabil,” ujar Zam.

Menurutnya, pemulihan ekonomi daerah tidak cukup hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus menyentuh sektor produktif yang langsung berkaitan dengan kebutuhan masyarakat.

Zam mendorong pemerintah pusat maupun daerah menjalankan program restocking sapi, memperbaiki akses jalan distribusi logistik, serta memberikan insentif dan pendampingan bagi peternak lokal.

Ia juga menyoroti pentingnya integrasi antara sektor peternakan dengan perkebunan kopi Arabika Gayo yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Aceh Tengah.

“Peternakan merupakan bagian dari ekosistem kopi organik Gayo. Dalam rasio ideal, setiap hektare kebun kopi membutuhkan dua sampai tiga ekor sapi. Kotoran ternak bisa menjadi bahan pupuk organik bagi petani kopi,” jelasnya.

Menurut Zam, integrasi peternakan dan kopi akan menciptakan siklus ekonomi yang saling menguatkan, sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal.

“Sudah saatnya peternakan dan kopi diintegrasikan. Kalau ini berjalan, petani mendapat pupuk organik, peternak punya pasar, dan masyarakat mendapatkan daging dengan harga yang lebih terjangkau,” pungkasnya.

 

Komentar