Hamdan Desak Perbaikan Jalan Pascabencana Jadi Prioritas di Gayo
ASKARA - Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon, Drs. H. Hamdan, MA, mendesak pemerintah menjadikan perbaikan infrastruktur jalan pascabencana sebagai prioritas utama guna mendukung pemulihan ekonomi masyarakat, khususnya petani kopi di dataran tinggi Gayo.
Menurut Hamdan, petani kopi di Aceh Tengah saat ini menghadapi tekanan berat, mulai dari kelangkaan dan mahalnya pupuk hingga anjloknya harga kopi saat panen raya.
“Kondisi ini membuat petani rugi di dua sisi, input mahal dan output murah. Rantai masalah sudah dimulai sejak masa tanam dan berlanjut hingga pasca panen,” ujarnya di Takengon, Selasa (20/5/2026).
Hamdan menjelaskan lemahnya distribusi akibat kerusakan infrastruktur turut memperburuk kondisi petani. Salah satunya jalan nasional di kawasan Enang-Enang yang disebut belum tersentuh perbaikan pascabencana sehingga menghambat distribusi pupuk maupun hasil panen.
“Fokus dulu memperbaiki jalan yang ada sebelum program besar lainnya. Kalau akses jalan mati, distribusi pupuk, hasil panen, dan bantuan ikut macet,” tegas Hamdan yang juga menjabat Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Aceh Tengah.
Selain persoalan ekonomi dan infrastruktur, Hamdan turut menyoroti kerusakan lingkungan di kawasan hulu dataran tinggi Gayo yang dinilai meningkatkan risiko bencana susulan seperti banjir dan longsor.
Ia mendorong pemerintah bersama masyarakat menjalankan program penanaman pohon secara sistematis guna memulihkan fungsi ekologis kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS).
Menurutnya, persoalan infrastruktur, lingkungan, dan ekonomi petani saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan dalam proses pemulihan daerah pascabencana.
“Tanpa infrastruktur dan lingkungan yang pulih, produktivitas kopi sulit meningkat. Tanpa ekonomi petani yang stabil, proses pemulihan daerah pascabencana juga akan berjalan lambat,” katanya.
Hamdan menegaskan bencana yang terjadi harus menjadi momentum evaluasi terhadap tata kelola lingkungan dan pembangunan di kawasan dataran tinggi Gayo.
“Evaluasi harus dimulai sekarang. Jadikan bencana sebagai pembelajaran termahal dalam tata kelola lingkungan dataran tinggi Gayo yang merupakan daerah hulu aliran sungai,” pungkasnya.

Komentar