Arah Ekonomi Gayo Pasca Bencana: Saatnya Hitung Ulang Nilai yang Sebenarnya
Oleh: Zam Zam Mubarak_
(Founder Linge Antara Institute)
ASKARA - Pembangunan ekonomi berbasis alam menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi wilayah Gayo. Struktur ekonomi Aceh Tengah selama ini diperkuat oleh perkebunan dan pertanian, dengan Kopi Arabika Gayo yang sudah Go Nasional dan mendapat perhatian luas masyarakat dunia. Pariwisata juga ikut naik kelas, sebelum bencana Aceh Tengah jadi daerah kunjungan paling diminati di Aceh.
Musim libur, hotel dan homestay penuh, camping ground padat, bahkan wisatawan rela menginap di masjid. Itu bukti daya tarik Gayo belum padam. Tapi tingginya kunjungan belum diiringi peningkatan layanan. Pengelolaan pariwisata masih konvensional. Tanpa perbaikan tata kelola, Aceh Tengah bisa kehilangan posisinya.
Ekonomi Gayo Bergerak Kalau Swasta Bergerak
Faktanya, pembangunan ekonomi Aceh Tengah lebih banyak ditopang kinerja swasta. Ekonomi bergerak ketika pelaku usaha tumbuh, membuka lapangan kerja, menggerakkan rantai pasok kopi, wisata, dan jasa pendukung.
Masalahnya, dokumen perencanaan ekonomi yang ada belum sepenuhnya sesuai realita di lapangan. Kebijakan sering dibuat tanpa melihat kondisi akses, modal, dan kebutuhan pelaku usaha. Padahal ekonomi Aceh Tengah sangat dipengaruhi akses jalan, terutama jalan vital yang menghubungkan sentra produksi ke pasar.
Pertanyaan yang Harus Dijawab Terbuka
Di tengah upaya rehabilitasi dan rekonstruksi, muncul pertanyaan penting:
Kenapa Pemda saat ini lebih memberi atensi kepada perusahaan tambang, yang secara nilai ekonomi jangka panjang belum tentu menguntungkan?
Para penggerak ekonomi Aceh Tengah, baik pra maupun pasca bencana, seolah tidak punya nilai saat ini. Padahal mereka yang menjaga kopi tetap hidup, wisata tetap jalan, dan desa tetap produktif.
Tambang mungkin cepat memberi pemasukan sesaat, tapi apakah itu lebih bernilai daripada jasa ekosistem kopi dan pariwisata yang berkelanjutan? Tambang hanya mempercepat terjadinya kiamat ekologis Gayo jika tidak dikendalikan dengan ketat.
Mari kita berhitung bersama secara objektif. Libatkan akademisi, ekonom lingkungan, dan pelaku usaha. Bandingkan nilai tambah tambang dengan nilai jasa ekosistem kopi, air, pariwisata, dan ketahanan pangan. Jangan sampai keputusan diambil karena cepat dan mudah, tapi merusak fondasi ekonomi Gayo 20 tahun ke depan.
Rehabilitasi Butuh Solidaritas, Bukan Bendera Putih
Menghadapi rehabilitasi dan rekonstruksi Gayo saat ini bukan pekerjaan mudah. Diperlukan solidaritas semua pihak. Bencana sudah di depan mata. Ketika ekonomi lumpuh dan akses terputus, pemerintah daerah tidak boleh mengibarkan bendera putih atas ketidakmampuannya.
Skala penanganan bencana Gayo sangat besar. Kondisi darurat non-perang terlihat kasat mata di lapangan. Tapi dari situasi ini harus ada pembelajaran berharga: memperkuat ketangguhan ekonomi kawasan berbasis sumber daya lokal.
Jalan Ke Depan
1. Konsolidasikan ekonomi strategis berkelanjutan dengan melibatkan sektor swasta, koperasi, dan komunitas lokal.
2. Perkuat sektor kopi dan pariwisata sebagai mesin ekonomi hijau yang sudah terbukti menyerap tenaga kerja dan menjaga lingkungan.
3. Evaluasi ulang orientasi investasi agar tidak mengorbankan hulu DAS dan jasa ekosistem demi keuntungan jangka pendek.
Gayo punya modal alam dan sosial yang kuat. Yang kurang hanya konsistensi kebijakan dan keberanian memihak ekonomi yang berkelanjutan.
Bencana hari ini harus jadi momentum untuk memilih arah: melanjutkan model ekonomi ekstraktif yang cepat habis, atau membangun ekonomi Gayo yang tahan terhadap guncangan dan memberi manfaat jangka panjang.

Komentar