Prof. Rokhmin Dahuri Saksikan Lahirnya Tianzhou-10 China, Harapan Indonesia Menatap Langit
ASKARA — Langit pagi di Kabupaten Wenchang, Provinsi Hainan, China, bergetar oleh dentuman dahsyat mesin roket, Senin (11/5). Tepat pukul 08.14 waktu Beijing, kendaraan peluncur Long March-7 Y11 mengangkat roket kargo Tianzhou-10 menuju orbit, membawa pasokan vital bagi stasiun luar angkasa Tiangong.
Di antara ribuan pasang mata yang menatap ke langit, hadir sosok yang tak asing bagi dunia maritim Indonesia: Prof. Rokhmin Dahuri, bersama sang istri, Dr. Pigoselpi Anas. Usai menjalankan tugas sebagai Keynote Speaker dalam forum China–ASEAN Blue Economy Cooperation Dialogue, Rokhmin menyempatkan diri menyaksikan langsung momen bersejarah ini.
Suasana di Wenchang begitu meriah. Warga lokal berbondong-bondong naik ke atap hotel dan gedung-gedung tinggi, sekadar ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sebuah roket menembus atmosfer. Sorak sorai bercampur decak kagum, seolah seluruh kota menjadi panggung perayaan sains dan teknologi.
Menurut keterangan China Manned Space Agency, Tianzhou-10 membawa muatan strategis: pakaian antariksa untuk aktivitas luar modul, kebutuhan konsumsi kru, bahan bakar, serta perlengkapan eksperimen ilmiah. Semua itu adalah denyut nadi yang menjaga keberlangsungan stasiun luar angkasa Tiangong, simbol ambisi China menancapkan pengaruhnya di jagat antariksa.
Indonesia Menatap Langit
Di tengah gegap gempita peluncuran, Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan refleksi penuh makna. “Semoga suatu saat nanti, Indonesia juga bisa berkembang lebih baik sehingga memiliki roket dan stasiun luar angkasa sendiri, demi kemaslahatan rakyat dan bangsa,” ujar Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan ini, dengan nada optimistis.
Ucapan itu bukan sekadar harapan pribadi, melainkan visi besar: bahwa bangsa maritim seperti Indonesia tidak hanya berhak berjaya di laut, tetapi juga layak menatap langit. Bagi Rokhmin, teknologi antariksa bukan sekadar simbol prestise, melainkan instrumen strategis untuk riset, komunikasi, pertahanan, hingga kesejahteraan rakyat.
Visi Peradaban Baru
Kehadiran Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu di Hainan menjadi simbol keterhubungan dua dunia: laut sebagai panggung ekonomi biru dan angkasa sebagai horizon masa depan.
"Jika laut adalah mesin ekonomi global bernilai triliunan dolar, maka antariksa adalah frontier baru yang menjanjikan peluang tak terbatas," tuturnya.
Indonesia, dengan kekayaan maritimnya, bisa menjadikan laut sebagai pijakan, dan angkasa sebagai lompatan. Peluncuran Tianzhou-10 yang disaksikan Prof. Rokhmin seolah menjadi metafora: bangsa yang berani bermimpi besar akan selalu menemukan jalannya menuju bintang.
Peluncuran Tianzhou-10 bukan hanya peristiwa teknologi, melainkan juga inspirasi lintas bangsa. Di mata Prof. Rokhmin Dahuri, dentuman roket itu adalah panggilan sejarah: agar Indonesia berani menatap langit, membangun mimpi antariksa, dan menjadikannya bagian dari perjuangan besar demi kemaslahatan rakyat.

Komentar