Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:14
NEWS

Kebiadaban KKB

Dua Uskup Kecam KKB Bakar Pesawat Gereja dan Bunuh Pilot

Dua Uskup Kecam KKB Bakar Pesawat Gereja dan Bunuh Pilot
Dua uskup Katolik di Tanah Papua menyampaikan kecaman keras atas pembakaran pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) dan pembunuhan pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat (Dok Askara)

ASKARA - Dua uskup Katolik di Tanah Papua menyampaikan kecaman keras atas pembakaran pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) dan pembunuhan pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat, Capt. Nicholas Francis Goselin alias Mark, yang diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Balinggalinggama, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, menyatakan peristiwa tersebut bukan hanya serangan terhadap sarana pelayanan kemanusiaan, tetapi juga tragedi yang melukai rasa kemanusiaan karena korban datang ke Papua untuk melayani masyarakat.

"Pesawat AMA milik keuskupan-keuskupan di Tanah Papua dibakar oleh KKB. Tetapi yang lebih menyedihkan lagi, pilotnya dibunuh. Padahal pilot itu tidak bersalah. Ia datang untuk melayani masyarakat Papua melalui tugasnya sebagai pilot. Namun sekarang ia dibunuh dengan sangat kejam. Kami mengecam tindakan brutal tersebut," tegas Mgr. Mandagi, Sabtu (4/7/2026).

Menurutnya, Papua membutuhkan kedamaian, bukan kekerasan yang terus memperpanjang penderitaan masyarakat.

"Semoga di Papua ada damai, bukan kekerasan. Semoga di Papua ada pengampunan, bukan balas dendam. Kita umat Katolik hadir untuk membawa damai dan sukacita, bukan terlibat dalam berbagai tindakan kekerasan yang hanya melahirkan konflik di mana-mana," ujarnya.

Mgr. Mandagi juga mengajak seluruh umat mendoakan almarhum Capt. Nicholas Francis Goselin serta keluarga yang ditinggalkan.

"Kita berdoa semoga Tuhan membalas segala pengabdian pilot berkewarganegaraan Amerika itu. Kami turut bersedih bersama istri dan anak-anak yang ditinggalkan. Semoga mereka tetap diberikan kekuatan, damai, dan sejahtera," katanya.

Senada dengan itu, Uskup Jayapura yang juga Komisaris PT Associated Mission Aviation (AMA), Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, menyebut pembakaran pesawat dan pembunuhan pilot sebagai tragedi kemanusiaan yang sangat menyakitkan bagi Gereja Katolik dan keluarga besar AMA.

Pernyataan tersebut disampaikan Jumat (3/7/2026) usai menyambut kedatangan jenazah almarhum Capt. Nicholas Francis Goselin di Base Ops Lanud Bandara Sentani, Jayapura.

"Selama 67 tahun AMA melayani masyarakat di Papua, baru kali ini terjadi aksi kekerasan berupa pembakaran pesawat dan pembunuhan pilot. Selama ini kami menghadapi risiko kecelakaan akibat cuaca maupun faktor teknis. Namun tindakan kejahatan seperti ini sangat sulit kami terima. Ini merupakan tindakan yang biadab dan tidak berperikemanusiaan," ujar Mgr. Yanuarius.

Ia menjelaskan, sejak berdiri AMA mengemban misi pelayanan kemanusiaan melalui transportasi udara bagi masyarakat pedalaman Papua. Pelayanan tersebut mendukung kegiatan pastoral Gereja, pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, hingga pembangunan di wilayah-wilayah terpencil yang sulit dijangkau.

Mgr. Yanuarius juga membantah berbagai informasi yang beredar di media sosial yang menyebut pesawat AMA digunakan untuk mengangkut personel TNI, Polri, TPNPB, maupun amunisi.

Menurutnya, seluruh penerbangan AMA murni diperuntukkan bagi pelayanan kemanusiaan tanpa keterlibatan dalam kepentingan politik ataupun operasi militer.

Operasional AMA, lanjutnya, selama ini mendapat dukungan pemerintah melalui program subsidi penerbangan perintis untuk mengangkut logistik, bahan bangunan, kebutuhan pokok, tenaga pelayanan, serta penumpang ke daerah-daerah pedalaman. Penerbangan menuju Balinggalinggama sendiri dilakukan secara rutin sekitar satu kali setiap pekan, dan hingga insiden tersebut terjadi, pihak AMA mengaku tidak pernah menerima ancaman terhadap aktivitas penerbangannya.

Ia menambahkan, pesawat yang dibakar merupakan aset yang diperoleh melalui dukungan dan penggalangan dana umat serta berbagai lembaga Gereja. Karena itu, aksi pembakaran tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga mengganggu pelayanan kemanusiaan yang selama puluhan tahun diberikan kepada masyarakat Papua.

Kedua uskup berharap tragedi tersebut menjadi momentum untuk menghentikan kekerasan di Tanah Papua dan membuka ruang dialog demi terwujudnya perdamaian yang berkeadilan, sehingga pelayanan kemanusiaan dapat terus berjalan bagi masyarakat di wilayah pedalaman.

 

Komentar