Sosialisasi di STMIK IKMI, Prof. Rokhmin Dahuri: 4 Pilar MPR Kunci Jaga Persatuan di Tengah Keberagaman
ASKARA – Aula STMIK IKMI Cirebon bergemuruh saat Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S. membuka paparannya dengan data mencengangkan: 280 juta penduduk, ribuan pulau, ratusan suku, dan kekayaan alam yang ditaksir tak habis tujuh turunan. Tapi di balik itu, ada pertanyaan besar yang ia lempar ke 150 mahasiswa: “Kenapa kita belum sejahtera?”
Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu hadir di Cirebon dalam agenda Sosialisasi 4 Pilar MPR RI, Ahad, 22 Juni 2026. Turut mendampingi Sekretaris STMIK IKMI Cirebon Rudi Kurniawan, M.T. yang mewakili Ketua Prof. Dr. Dadang Sudrajat, S.Si., M.Kom., serta Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fatihanursari Dikananda, S.Tr.I.Kom., M.Kom.
Prof. Rokhmin, yang pernah menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004, menyebut keberagaman Indonesia sebagai “pedang bermata dua”. Bisa jadi kekuatan pemersatu, bisa juga jadi celah perpecahan jika tak dikelola.
“Kita bersyukur para pendiri bangsa telah mewariskan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat hal ini yang kemudian ditetapkan MPR RI sebagai 4 Pilar. Ini bukan sekadar hafalan, tapi nyawa bangsa,” tegasnya, dikutip Senin (29/6).
Ia mengingatkan, negara-negara besar runtuh bukan karena miskin sumber daya, tapi karena rakyatnya tercerai-berai. “Indonesia kuat karena meski berbeda suku, agama, ras, dan golongan, kita tetap pegang prinsip gotong royong. Jangan sampai kita kalah oleh hoaks, polarisasi, dan politik identitas,” lanjutnya disambut tepuk tangan mahasiswa.

Sebagai anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, lingkungan hidup, dan kelautan, Prof. Rokhmin menyoroti bonus demografi Indonesia. Menurutnya, mahasiswa hari ini adalah penentu apakah Indonesia Emas 2045 jadi kenyataan atau sekadar jargon.
“Saya titip tiga hal ke adik-adik mahasiswa,” ujarnya sambil menunjuk ke arah peserta.
Pertama, jaga persatuan. “Kita semua sesama anak bangsa. Beda pilihan boleh, tapi jangan saling cakar. Utamakan tolong-menolong.”
Kedua, kuasai ilmu dan teknologi. “Dunia sudah masuk era AI, big data, ekonomi biru, ekonomi hijau. Kalau kalian tidak melek teknologi, kita hanya akan jadi penonton di negeri sendiri.”
Ketiga, jaga iman dan takwa. “Sepintar apa pun, secanggih apa pun, kalau moralnya rapuh, bangsa ini bisa hancur. Iptek tanpa imtak itu berbahaya.”
Kaya SDA, Tapi Masih Banyak PR
Suasana jadi hening ketika Prof. Rokhmin mulai mengurai “paradoks Indonesia”. Ia membeberkan satu per satu kekayaan yang dimiliki: cadangan nikel terbesar dunia, tembaga di Papua, batu bara di Kalimantan, emas di Sumatera, timah di Bangka Belitung, potensi perikanan 12 juta ton per tahun, hingga hutan tropis terluas ketiga di dunia.
“Logikanya, dengan SDA sebanyak itu, tidak boleh ada rakyat miskin. Tidak boleh ada anak putus sekolah karena biaya. Tidak boleh ada nelayan dan petani yang hidup pas-pasan,” tegasnya dengan nada tinggi.
Namun realitanya, Indonesia masih berjibaku dengan angka kemiskinan, pengangguran terbuka, dan ketimpangan ekonomi antarwilayah.
“Ini jadi pekerjaan rumah kita bersama. Tugas kalian sebagai intelektual muda adalah mencari jawabannya. Bukan hanya protes, tapi kasih solusi berbasis data dan sains,” tantangnya.

Cetak SDM Digital Penjaga NKRI
Rudi Kurniawan, M.T. mewakili pimpinan STMIK IKMI Cirebon menyambut baik sosialisasi ini. Menurutnya, kampus yang fokus di bidang teknologi informasi itu punya tanggung jawab ganda: mencetak talenta digital sekaligus menanamkan wawasan kebangsaan.
“Mahasiswa kami tidak hanya belajar coding dan AI. Mereka harus paham bahwa teknologi yang mereka ciptakan harus untuk memperkuat NKRI, bukan memecah belah,” kata Rudi.
Sementara Fatihanursari Dikananda menambahkan, kegiatan ini jadi bekal penting agar mahasiswa tak apatis terhadap isu kebangsaan. “Di era media sosial, anak muda gampang sekali terprovokasi. 4 Pilar ini rem-nya,” ujarnya.

Menutup sesi yang berlangsung hampir 2 jam, Prof. Rokhmin berpesan agar mahasiswa keluar dari zona nyaman. “Jangan jadi generasi rebahan yang hobinya scroll medsos tanpa karya. Bangsa ini butuh kalian yang berpikir, bekerja, dan berkarya nyata.”
Ia pun optimistis, jika 4 Pilar benar-benar diaplikasikan dan generasi muda menguasai iptek, maka cita-cita Indonesia sebagai negara maju berpendapatan tinggi bukan mustahil.
“Genggam Pancasila di dada, kuasai teknologi di kepala, kerja nyata dengan kedua tangan. Itu rumus Indonesia Emas,” pungkasnya.

Komentar