Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:23
NEWS

Dialog Kerja Sama Ekonomi Biru China–ASEAN, Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Sabang Jadi Hub Maritim

Dialog Kerja Sama Ekonomi Biru China–ASEAN, Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Sabang Jadi Hub Maritim
Prof. Rokhmin Dahuri (foto rd Institute)

ASKARA  - Forum bergengsi China–ASEAN Blue Economy Cooperation Dialogue di Hainan, Minggu (10/5),  menjadi panggung penting bagi Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, Anggota DPR RI sekaligus Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004, untuk menegaskan urgensi kerja sama ekonomi biru sebagai fondasi kemakmuran bersama, perdamaian, dan keberlanjutan. 

Pada saat dunia menghadapi tantangan eksistensial yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik dan perang, perubahan iklim, ketidakamanan pangan, serta disrupsi teknologi, kemitraan China–ASEAN muncul sebagai jangkar strategis bagi stabilitas, pertumbuhan, kemakmuran, dan keberlanjutan, tidak hanya bagi kawasan Indo-Pasifik, tetapi juga bagi dunia.

"Lautan yang menghubungkan kita secara geografis kini harus menyatukan kita secara strategis. Ekonomi Biru bukan lagi sekadar aspirasi konseptual, melainkan kebutuhan operasional dalam memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya pesisir dan laut untuk menyediakan barang dan jasa, pekerjaan layak, serta kemakmuran manusia secara adil dan berkelanjutan," ujar Pendiri dan Peneliti Senior Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Laut, IPB University.

Dalam pidato utamanya, Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan, Ekonomi Biru, sebagaimana dirumuskan oleh Bank Dunia dan PBB (2012), menekankan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya pesisir dan laut untuk menghasilkan berbagai produk dan jasa, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, sambil menjaga kesehatan dan keberlanjutan ekosistem alami. Lebih dari 70 persen permukaan bumi tertutup laut dan samudra, memberikan potensi besar mulai dari perikanan, akuakultur, industri bioteknologi kelautan, energi dan mineral, pariwisata bahari, industri maritim dan jasa, hingga ekosistem karbon biru. Saat ini, ekonomi laut global menyumbang lebih dari USD 3,5 triliun per tahun, dengan proyeksi ekspansi signifikan pada 2030.

Dalam konteks global ini, kawasan China–ASEAN menonjol sebagai koridor ekonomi maritim berdaya tumbuh tinggi. Dengan populasi gabungan lebih dari 2 miliar jiwa dan volume perdagangan melampaui USD 900 miliar, kemitraan ini membentuk salah satu ekosistem ekonomi paling dinamis di dunia.

"Potensi ekonomi biru dunia mencapai lebih dari USD 3,5 triliun per tahun, namun baru dimanfaatkan sekitar 40 persen. Kawasan China–ASEAN, dengan populasi lebih dari 2 miliar jiwa dan perdagangan melampaui USD 900 miliar, disebut sebagai koridor maritim paling dinamis di dunia," terangnya.

Lautan yang menghubungkan kita secara geografis kini harus menyatukan kita secara strategis. Ekonomi Biru bukan lagi sekadar aspirasi konseptual, melainkan kebutuhan operasional dalam memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya pesisir dan laut untuk menyediakan barang dan jasa, pekerjaan layak, serta kemakmuran manusia secara adil dan berkelanjutan.  

Tantangan dan Agenda Kerja Sama

Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan tersebut mengingatkan bahwa potensi besar ini dibayangi masalah serius: overfishing, polusi laut, degradasi habitat, hilangnya biodiversitas, serta dampak perubahan iklim. Karena itu, kerja sama China–ASEAN harus diarahkan pada:  
- Pengelolaan perikanan dan akuakultur berbasis data,  
- Industri maritim rendah karbon,  
- Perlindungan ekosistem karbon biru (mangrove, lamun, terumbu karang),  
- Inovasi sains kelautan dan transfer teknologi,  
- Pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir secara inklusif.  

Indonesia Dorong Sabang Jadi Hub Maritim

Sebagai negara kepulauan terbesar dengan potensi ekonomi biru senilai USD 1,4 triliun per tahun, Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pesisir dan Ocean Development, Universitas Bremen, Jerman itu menawarkan gagasan strategis: menjadikan Kota Sabang sebagai kawasan perdagangan bebas maritim di pintu barat Selat Malaka.  

Sabang diproyeksikan menjadi pusat layanan maritim berbasis jasa, meliputi:  
- Perbaikan dan pemeliharaan kapal,  
- Logistik dan transshipment,  
- Stasiun pengisian bahan bakar,  
- Penyediaan kebutuhan kapal internasional,  
- Kawasan industri maritim.  

Namun, Ketua Bidang Kelautan dan Perikanan DPP PDI Perjuangan ini  menegaskan, pengembangan Sabang harus realistis dan berbasis keunggulan komparatif, bukan sebagai titik geopolitik sensitif. Untuk itu, Indonesia membuka peluang kemitraan strategis dengan investor global, termasuk China, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.  

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) menutup pidatonya dengan seruan agar China dan ASEAN menangkap peluang bersejarah ini: memperkuat kerja sama saling menguntungkan, mempercepat pembangunan Hainan sebagai hub maritim strategis, dan bersama-sama membangun ekonomi biru yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan bagi kawasan dan dunia.

Komentar