Rabu, 17 Juni 2026 | 18:04
NEWS

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Konsumsi Lebaran Jadi Penopang

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Konsumsi Lebaran Jadi Penopang
Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza (Dok Askara)

ASKARA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di angka 4,87 persen.

BPS mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp6.187,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp3.447,7 triliun.

Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza, menilai capaian itu menunjukkan tren pemulihan ekonomi nasional yang cukup positif, meski manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh masyarakat.

Menurut Handi, momentum Ramadhan dan Idul Fitri menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada awal 2026. Aktivitas konsumsi masyarakat meningkat tajam seiring pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dan tingginya mobilitas selama musim mudik.

“Belanja masyarakat untuk kebutuhan makanan, minuman, pakaian, hingga perjalanan selama Ramadhan dan Lebaran membuat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan menjadi kontributor terbesar terhadap ekonomi nasional,” ujarnya, Rabu (7/5/2026).

Ia menjelaskan, peningkatan aktivitas masyarakat juga berdampak langsung pada sejumlah sektor usaha. Sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04 persen, sementara sektor akomodasi serta makan-minum mengalami lonjakan hingga 13,14 persen.

Selain faktor musiman, Handi menyebut berbagai program pemerintah turut memperkuat daya dorong ekonomi domestik. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembayaran THR ASN, pengangkatan ASN baru, hingga peningkatan belanja pemerintah menjadi faktor pendukung pertumbuhan.

“Berbagai program pemerintah berhasil meningkatkan konsumsi masyarakat dan menggerakkan sektor-sektor terkait,” katanya.

Meski demikian, Handi mengingatkan bahwa tingginya pertumbuhan ekonomi pada awal tahun juga dipengaruhi efek basis rendah (low base effect) dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang relatif lebih rendah.

Di sisi lain, secara triwulanan (quarter to quarter/qtq), ekonomi Indonesia masih mengalami kontraksi 0,77 persen dibandingkan Triwulan IV 2025. Menurutnya, kondisi itu merupakan pola yang umum terjadi setelah tingginya aktivitas ekonomi pada akhir tahun.

Handi juga menilai pertumbuhan ekonomi nasional masih belum sepenuhnya mencerminkan kondisi masyarakat secara luas karena pertumbuhan lebih banyak ditopang sektor-sektor tertentu.

“Pertumbuhan ini memang menjadi salah satu yang tertinggi dalam lima tahun terakhir dan cukup baik di level G20, tetapi dampaknya belum merata dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan pemerintah untuk tetap mewaspadai ketidakpastian global yang berpotensi mempengaruhi ekonomi nasional, mulai dari tensi geopolitik internasional, ancaman krisis energi, pelemahan mata uang, hingga tekanan inflasi global.

“Kondisi global masih penuh ketidakpastian. Semua pihak perlu bersikap lebih hati-hati dan terukur dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan,” tutupnya.

 

 

Komentar