John Dewey: Confusius Kedua yang Mengubah Cara Dunia Belajar
Oleh: Prof. Ismunandar
ASKARA - Artikel ini ditulis dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026 — momentum untuk kembali merenungkan makna sejati pendidikan bagi kehidupan kita. Semoga pemikiran John Dewey menginspirasi para pendidik, siswa, dan siapa pun yang percaya bahwa belajar adalah perjalanan sepanjang hayat, bukan sekadar mengejar nilai di atas kertas.
Bayangkan sebuah kelas tanpa ceramah panjang. Murid-murid tidak duduk diam menghafal, melainkan sibuk bereksperimen, berdiskusi, dan memecahkan masalah nyata. Itulah visi John Dewey — dan dunia pendidikan tidak pernah sama lagi setelahnya.
John Dewey (1859–1952) adalah filsuf dan reformator pendidikan asal Amerika yang meninggalkan warisan luar biasa. Ia menolak keras model pendidikan tradisional yang memperlakukan murid sebagai "wadah kosong" yang tinggal diisi pengetahuan. Baginya, pendidikan bukan persiapan untuk hidup — pendidikan adalah hidup itu sendiri.
Prinsip terkenal Dewey, learning by doing (belajar sambil melakukan), menjadi fondasi seluruh pemikirannya. Dalam karya monumentalnya Democracy and Education (1916), ia berargumen bahwa sekolah seharusnya menjadi laboratorium mini masyarakat demokratis — tempat anak-anak belajar berpikir kritis, bekerja sama, dan memecahkan masalah bersama. Guru bukan lagi satu-satunya sumber kebenaran, melainkan fasilitator yang membimbing pengalaman belajar siswa.
Pengaruh Dewey tidak berhenti di Amerika. Ketika ia mengunjungi Tiongkok pada 1919 — tepat saat Gerakan May Fourth bergolak — para intelektual di sana langsung terpesona. Ide-idenya tentang demokrasi, sains, dan pendidikan berbasis pengalaman begitu beresonansi hingga ia dijuluki "Confucius Kedua", sebuah penghormatan luar biasa yang menyetarakan visinya dengan kebijaksanaan sang guru besar China.
Di dunia akademik, pengakuan terhadap Dewey tak kalah gemilang. Ia pernah menjabat sebagai Presiden American Psychological Association (1899) sekaligus Presiden American Philosophical Association (1905) — pencapaian langka yang menunjukkan betapa lintas disiplinnya pengaruh sang filsuf. Ia juga menerima gelar kehormatan dari Universitas Paris dan berbagai institusi bergengsi lainnya.
Lebih dari satu abad setelah Democracy and Education terbit, gagasan Dewey masih hidup di ruang-ruang kelas seluruh dunia. Setiap kali seorang guru meminta muridnya untuk berdiskusi daripada menghafal, atau merancang proyek nyata daripada mengerjakan soal abstrak — di sanalah semangat John Dewey terus bernapas.

Komentar