Kriminolog UI Soroti Prostitusi Batavia dalam Seri 'Sari yang Dihapus'
ASKARA - Dosen Kriminologi FISIP Universitas Indonesia sekaligus anggota Dewan Redaksi Keadilan.Id dan pengurus PWI Jaya, Bagus Sudarmanto, mengangkat sisi gelap sejarah Batavia melalui tulisan bertajuk Kriminologi 500 Tahun Jakarta (Seri-11): Prostitusi Batavia: Sari yang Dihapus.
Dalam tulisannya, Bagus menyoroti praktik prostitusi di Batavia pada awal abad ke-19 yang tidak hanya hadir sebagai fenomena sosial, tetapi juga diatur dan ditoleransi dalam sistem kolonial. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut menjadi bagian dari ekosistem kekuasaan yang melibatkan jaringan perantara dan otoritas yang bersikap ambivalen.
Melalui figur “Sari”, Bagus menghadirkan representasi perempuan yang kerap tidak tercatat dalam arsip sejarah. Sari digambarkan sebagai simbol dari banyak perempuan yang datang ke Batavia dengan harapan sederhana untuk bertahan hidup, namun terjebak dalam relasi kuasa yang timpang.
“Perempuan seperti Sari tidak hadir sebagai subjek utuh, melainkan sebagai harapan yang mudah dipindahkan dan pada akhirnya dimiliki,” tulis Bagus, menggambarkan kondisi sosial saat itu.
Ia menjelaskan, dalam arsip kolonial, perempuan sering kali tidak dicatat sebagai individu, melainkan sekadar kategori seperti “pelacur” atau “masalah sosial”. Hal ini menunjukkan bagaimana sistem lebih menekankan keteraturan dibandingkan keadilan, sementara penderitaan menjadi bagian dari mekanisme yang berjalan.
Bagus juga mengungkap keterkaitan prostitusi dengan ekonomi bayangan (shadow economy), yang mencakup aktivitas seperti perjudian, alkohol, dan penginapan murah. Ironisnya, perempuan yang berada dalam lingkaran tersebut justru menanggung stigma berlapis sebagai pelaku sekaligus korban.
Dari perspektif kriminologi, ia mengaitkan fenomena tersebut dengan teori Strain dari Robert K. Merton, yang menjelaskan bagaimana tekanan ekonomi mendorong individu pada pilihan yang terbatas. Selain itu, pendekatan feminist criminology menunjukkan adanya “double victimization”, di mana perempuan mengalami eksploitasi sekaligus disalahkan.
Bagus juga menyoroti praktik debt bondage atau jeratan utang sebagai bentuk awal perdagangan manusia, yang menjebak perempuan dalam ketergantungan ekonomi dan sosial. Menurutnya, pola ini bukan sekadar sejarah, melainkan fenomena yang berulang dalam berbagai konteks.
Melalui Seri-11 ini, Bagus menegaskan pentingnya membaca sejarah tidak hanya sebagai rangkaian peristiwa, tetapi juga sebagai refleksi atas pola ketidakadilan yang masih mungkin terjadi hingga kini. Ia mengingatkan bahwa suara-suara seperti “Sari” kerap hilang dalam narasi besar, padahal justru merepresentasikan realitas yang paling mendasar.

Komentar