Kamis, 04 Juni 2026 | 07:42
NEWS

Paus Leo XIV Serukan Solidaritas dan Keadilan Sosial di Angola

Paus Leo XIV Serukan Solidaritas dan Keadilan Sosial di Angola
Paus Leo XIV disambut umat di Angola (Dok Vaticannews)

ASKARA - Paus Leo XIV mengawali agenda publiknya di Angola dengan bertemu Presiden João Manuel Gonçalves Lourenço, pejabat negara, perwakilan masyarakat sipil, serta korps diplomatik di Istana Kepresidenan Luanda, Sabtu sore waktu setempat.

Dalam sambutannya, Paus menegaskan kedatangannya sebagai peziarah yang ingin melihat tanda-tanda kehadiran Tuhan di Angola. “Saya datang untuk bertemu rakyat Anda, sebagai peziarah yang mencari tanda-tanda kehadiran Tuhan di negeri ini,” ujarnya.

Paus juga menyampaikan keprihatinan atas bencana banjir yang melanda Provinsi Benguela. Ia menyampaikan doa bagi para korban serta solidaritas bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Menurutnya, respons masyarakat Angola menunjukkan semangat persatuan yang kuat dalam membantu sesama.

Dalam pidatonya, Paus Leo XIV menekankan bahwa kekuatan utama Angola bukan terletak pada sumber daya material, melainkan pada manusia. Ia menyebut rakyat Angola memiliki “kekayaan yang tak dapat dijual atau dicuri”, termasuk ketangguhan dan kegembiraan yang tetap hidup di tengah berbagai kesulitan.

Namun demikian, Paus juga mengingatkan bahaya eksploitasi ekonomi yang telah lama terjadi. Ia menyoroti praktik yang memandang wilayah hanya sebagai objek untuk diambil manfaatnya, dan menyerukan agar pola tersebut dihentikan.

Lebih luas, Paus menggambarkan Afrika sebagai “cadangan sukacita dan harapan” bagi dunia, terutama karena semangat generasi mudanya yang terus bermimpi dan berharap akan masa depan yang lebih baik.

Ia juga mengkritik model pembangunan yang eksploitatif, yang menurutnya kerap menimbulkan penderitaan, kematian, serta kerusakan sosial dan lingkungan. Model seperti itu dinilai menciptakan ketimpangan dan eksklusi, meski sering dianggap sebagai satu-satunya pilihan.

Dalam konteks sosial-politik, Paus menekankan pentingnya dialog sebagai jalan utama membangun kehidupan bersama. “Kehidupan tumbuh dalam perjumpaan. Pada awalnya adalah dialog,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa konflik harus dikelola secara konstruktif, bukan dihindari atau dibiarkan berkembang menjadi perpecahan. Mengutip ajaran Gereja, ia menekankan pentingnya menjadi pembawa damai.

Kepada para pemimpin Angola, Paus Leo XIV mengajak untuk mengedepankan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Ia juga mendorong agar perbedaan pandangan tidak ditakuti, melainkan dijadikan kekuatan untuk membangun bangsa.

Di akhir pesannya, Paus memperingatkan bahaya politik yang memanfaatkan perpecahan dan rasa putus asa. Strategi semacam itu, menurutnya, hanya akan memperlemah persatuan sosial dan memperdalam polarisasi di masyarakat.

 

 

Komentar