Suster Natalia Bawa Derita Umat ke BUMN, Kasus BNI Disorot
ASKARA - Di balik angka Rp28 miliar yang raib, tersimpan kisah ribuan umat kecil yang menggantungkan masa depan mereka pada secercah harapan. Harapan itu kini terasa retak, setelah dana yang dikumpulkan dengan susah payah melalui CU Paroki Aek Nabara diduga hilang akibat ulah oknum di Bank BNI.
Pada Kamis (16/4), suara luka itu akhirnya sampai ke pusat kekuasaan. Sr. Natalia Situmorang KYM, bendahara Paroki Aek Nabara, bersama Ketua CU Paroki Aek Nabara Manotar Marbun, datang menghadap Wakil Kepala Badan Pengelola BUMN, Aminuddin Ma’ruf.
Didampingi tim hukum dari Gani Djemaat serta Ketua Umum PP Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma, mereka membawa lebih dari sekadar laporan—mereka membawa jeritan hati umat yang selama ini tak terdengar.
Bagi Sr. Natalia, ini bukan sekadar perkara keuangan. Ini adalah perjuangan kemanusiaan. Ia berdiri bukan hanya sebagai biarawati, tetapi sebagai penjaga harapan umat yang terampas.
“Ini bukan sekadar angka. Ini tentang masa depan anak-anak yang ingin sekolah, tentang usaha kecil yang ingin tumbuh, tentang kepercayaan yang kini dilukai,” tergambar dari upaya tanpa lelah yang ia lakukan, setelah berbagai jalur ditempuh demi mencari keadilan.
Dana tersebut, yang dihimpun dari masyarakat pedesaan—dari mereka yang menabung sedikit demi sedikit—kini menjadi simbol luka kolektif. Uang itu adalah hasil kerja keras petani, buruh, dan keluarga sederhana yang memimpikan kehidupan lebih layak.
Dalam pertemuan tersebut, Sr. Natalia meminta agar negara hadir. Ia mendesak agar Bank BNI bertanggung jawab dan segera mengembalikan dana milik ribuan anggota CU yang diduga diselewengkan.
Merespons hal itu, Aminuddin Ma’ruf menyatakan empatinya. Dengan latar belakang sebagai santri dan kedekatan dengan kehidupan masyarakat akar rumput, ia mengaku memahami betul kepedihan yang dirasakan umat.
Ia bahkan membuka kemungkinan untuk turun langsung ke Sumatera Utara dalam waktu dekat guna mengoordinasikan penyelesaian kasus tersebut.
“Keadilan tidak boleh ditunda,” menjadi pesan kuat yang mengemuka dari pertemuan itu.
Kini, ribuan umat Aek Nabara menunggu. Menunggu apakah negara benar-benar hadir, atau justru membiarkan harapan mereka perlahan padam.
Di tengah ketidakpastian, satu hal tetap menyala: keberanian seorang suster yang memilih berdiri di garis depan, membawa suara mereka yang tak lagi punya daya selain berharap pada keadilan.

Komentar