Minggu, 07 Juni 2026 | 19:40
Parodi

Rosario vs Rekening: Saat Doa Mengantre di Depan Bank BNI

Rosario vs Rekening: Saat Doa Mengantre di Depan Bank BNI
Massa doa rosario di depan BNI Rantauprapar (Dok Askara)

ASKARA - Ada yang berbeda di depan kantor Bank BNI Rantauprapat. Biasanya antrean diisi nasabah yang ingin setor atau tarik tunai, kali ini antreannya diisi ratusan umat dengan rosario di tangan. Bukan mau misa, apalagi ziarah, tujuannya jelas: kantor bank.

Di bawah terik matahari, mereka tak berteriak, tak membakar ban, tak juga menggedor pintu. Mereka memilih cara yang lebih “halus”: berdoa. Doa Salam Maria demi Salam Maria dilantunkan, seolah berharap mukjizat finansial turun langsung dari langit, atau setidaknya dari meja direksi.

Kisahnya bermula dari dana umat Credit Union Paroki Fransiskus Asisi Aek Nabara sebesar Rp28,5 miliar yang entah bagaimana “berziarah” tanpa alamat jelas. Dari jumlah itu, baru Rp7 miliar yang pulang kampung. Sisanya? Masih dalam perjalanan spiritual, mungkin.

Umat pun bingung, apakah harus menunggu laporan keuangan atau menunggu wahyu. Maka dipilihlah jalan tengah: doa berjamaah di depan bank. Siapa tahu, antara bunga deposito dan bunga doa, ada yang lebih cepat berbuah.

“Ini bukan demo, ini devosi,” celetuk seorang peserta, sambil tetap khusyuk merangkai doa. Yang lain menambahkan, mungkin sistem perbankan juga butuh pertolongan ilahi untuk menemukan sisa dana yang tersesat.

Di sisi lain, publik bertanya-tanya: apakah laporan keuangan kini perlu dilengkapi kitab doa? Apakah audit internal harus diawali dengan novena?

Yang jelas, umat hanya meminta satu hal sederhana: kejelasan. Bukan mukjizat berlebihan, cukup transparansi yang nyata. Sebab jika doa saja sudah turun ke jalan, mungkin ada yang benar-benar naik ke langit, entah itu harapan, atau kepercayaan.

Sementara itu, hingga doa terakhir dilantunkan, pihak bank masih memilih hening. Mungkin sedang merenung. Atau, siapa tahu, ikut berdoa dari dalam.

Yang jelas, hari itu Rantauprapat mencatat sejarah kecil: ketika doa turun ke jalan, bukan untuk meminta rezeki, tapi menagih yang sudah ada. Dan ketika umat harus berharap pada mukjizat, biasanya ada yang terlalu lama menunda kewajiban.

 

Komentar