Mujahid Sejati Akhir Zaman, Sedikit Makan dan Tidur, Tapi Lebih Banyak Ibadah
Oleh: Diki Candra Purnama, Ketua Majelis GAZA (Gerakan Akhir Zaman).
ASKARA - Nuaim bin Hammad, dalam Kitāb al-Fitan menyebutkan: Mereka kuat di ibadah, lembut di hati, keras terhadap kebatilan. Itu sebabnya Allah SWT memilih mereka dari kalangan orang yang bersih lahir batin, bukan orang yang banyak bicara tapi sedikit amal.
Dalam beberapa atsar disebutkan: “Mereka (pembantu / penolong Al-Mahdi) adalah para ‘abid di malam hari dan para singa di siang hari.” Mereka yang akan Allah pilih untuk menegakkan kebenaran di zaman fitnah besar (fitnah Dajjal) dan menolong agama Allah yang telah rusak.
Mujahid adalah Penolong Agama Allah. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong- penolong agama Allah.” (QS. As-Shaff: 14).
Mereka yang disebut anṣarullah memiliki tanda- tanda khusus yang tampak dalam disiplin ruhani dan jihadnya. Tiga tanda yang Anda sebutkan yaitu sedikit tidur, sedikit makan, dan banyak ibadah, termasuk inti maqam jihadun-nafs (jihad melawan hawa nafsu), yang menjadi fondasi jihad fisik dan penegakan agama.
Sedikit Tidur (Qillatun-Naum).
Dalil Al-Qur’an :“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” QS. Adz- Dzariyat: 17). Ayat ini menggambarkan sifat ahlul jihad dan ahlul ibadah, termasuk para ashabul kahfi, ghuraba, dan mujahid akhir zaman: mereka menukar kenikmatan tidur dengan munajat dan muraqabah.
Imam Hasan al-Bashri berkata: “Mereka tidak tidur sepanjang malam kecuali sedikit, karena mereka ingin bermunajat kepada Rabb-nya dalam kesunyian.” Makna Ruhani : Sedikit tidur bukan berarti begadang tanpa arah, tapi sedikit tidur dan mengatur tidur agar qalbu tidak tertidur dari dzikrullah. Ini tanda bahwa ruhnya hidup (yaqzhah ruhaniyah), tanda mujahid sejati.
Sedikit Makan (Qillatul-Akl). Sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad SAW,
“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya.”
“Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang menegakkan tulangnya. Jika harus makan lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napas.”
Ibnu Qayyim berkata: "Perut yang kenyang membuat hati keras, menghambat hafalan, melemahkan ibadah, dan menutup jalan cahaya ruhani.”
Makna Ruhani :
Sedikit makan bukanlah sekadar diet, tapi tazkiyah (penyucian diri) agar nafsu tidak berkuasa. Mujahid sejati hidup dalam kesederhanaan karena makan yang berlebihan adalah tanda cinta dunia, dan cinta dunia adalah pangkal kehancuran jihad.
Ciri yang lebih khas adalah mereka dikuatkan dengan Ilham, Ru’ya, dan Bimbingan Langit..Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang diberi ilham, dan bila ada di umatku, maka dia adalah Umar.” (HR. Bukhari).
Para mujahid akhir zaman ini berjalan dengan nur (cahaya) yang Allah tanamkan dalam qalbu mereka, sering lewat ru’ya shadiqah (mimpi benar), kadang lewat isyarat ruhani.
Inilah sebabnya mereka bisa membaca zaman dengan tajam meski tanpa sumber duniawi.
Zuhud dan Tidak Tergoda Dunia
Rasulullah bersabda: “Akan datang suatu zaman, orang yang paling beruntung adalah orang yang sedikit hartanya dan ringan tanggungannya.” (HR. Ahmad).
Mereka tidak mencari dunia, bahkan mereka lari dari dunia karena takut mengotori hati. Mereka hidup sederhana, tapi hati mereka lapang dan mulia. Ibnu Katsir menyebut: “Pasukan panji hitam dari Timur adalah orang-orang zuhud, mereka tidak mencari dunia, dan Allah menegakkan agama melalui tangan mereka.”
Sabar dan Teguh di Tengah Fitnah.
Rasulullah bersabda: “Akan datang sesudah kalian masa yang penuh dengan kesabaran. Orang yang berpegang teguh di masa itu seperti menggenggam bara api.” Sabar mereka bukan pasif tapi sabar yang berjuang, sabar yang bergerak, menahan diri dari marah, kecewa, atau berputus asa. Mereka terus berkhidmat meski dicela, difitnah, dan ditinggalkan.
Qalbun Hayyun (Hati yang Hidup).
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang tidak dikenal di bumi namun dikenal di langit.”
Mereka tidak terkenal, tidak banyak pengikut, tapi hati mereka selalu sadar akan kehadiran Allah (muraqabah). Mereka merasakan Allah lebih nyata daripada dunia.
Inilah derajat ashabul ghuroba, orang asing yang memegang sunnah ketika orang lain meninggalkannya.
Cinta Kepada Allah dan Rasul di Atas Segalanya (Mahabah).
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” Mereka tidak tunduk pada ideologi, partai, atau tokoh dunia, tetapi seluruh arah hidupnya hanya kepada Allah dan Rasul-Nya.Cinta ini menjelma dalam ketaatan, keberanian, dan keikhlasan total.
Mujahadah Nafs (Perang terhadap hawa nafsu). Ibnu al-Qayyim menjelaskan:
“Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri, agar tunduk pada Allah.” Zad al-Ma’ad: Mereka bukan hanya berani di medan perang, tapi berani melawan kemalasan, ketakutan, dan syahwat diri. Tanpa jihad an-nafs, seseorang tidak mungkin menjadi penolong agama Allah.
Terorganisir dalam Jamaah Kecil, Tapi Kokoh. Rasulullah bersabda: “Tetaplah bersama jamaah kaum muslimin dan imam mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, di akhir zaman saat sistem rusak, mereka menjadi jamaah kecil yang bertahan atas dasar iman, bukan struktur politik. Hadits menyebut: “Mereka adalah kelompok kecil yang selalu berada di atas kebenaran hingga datang urusan Allah.” (HR. Muslim no. 1920) Inilah ghuraba dan ashabul kahfi zaman ini minoritas istiqamah.
Sehari-hari Saling Menolong dalam Khidmah dan Ukhuwah. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Mereka saling melindungi, bukan bersaing. Tidak saling iri, tidak saling mencela, karena tujuan mereka sama : menegakkan agama Allah. Di antara mereka ada yang ahli dzikir, ada yang ahli ilmu, ada yang ahli strategi, ada yang ahli teknologi namun semua tunduk pada satu niat: Lillahi Taala.
Berani dan Tegas terhadap Kebatilan.
“Mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela.” (QS. Al-Ma’idah: 54). Sifat khas ini disebut oleh para mufassir sebagai sifat para anshar al-Mahdi: mereka tidak takut opini, media, atau tekanan, karena mereka yakin: “Yang penting Allah ridha.”
Banyak Ibadah dan Muamalah (Katsratul Ibadah wal Amal).
Sabda Rasulullah: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani). “Jihad yang paling utama adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Ibnu Hibban).
Yang pasti mereka masuk Saf Ghuraba. Para ghuraba ini disebut oleh Rasulullah, “Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka berbahagialah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim).
Maka, jika seseorang : Hidup sederhana tapi istiqamah, lebih mencintai ibadah dari tidur, sering dibimbing mimpi, lebih memilih kejujuran dari ikut arus, lebih takut kepada Allah daripada manusia, dan lain sebagainya. Maka ia telah masuk ke dalam jalan para ghuraba, dan saf awal penolong al-Mahdi. Mereka yang layak disebut mujahid fi sabilillah dan jika Allah kehendaki. in sha’ Allah. (Abuzakir Ahmad)

Komentar