Tri Hari Suci: Dari Hati yang Diperbaharui Menuju Dunia yang Diperdamaikan
ASKARA - Saat memasuki Tri Hari Suci bukan sekadar mengenang peristiwa iman, tetapi masuk ke dalam cara hidup yang baru.
Paskah bukan hanya kisah tentang kebangkitan,
tetapi tentang lahirnya manusia baru. Ada yang berubah: dari manusia lama menjadi manusia baru. Apa yang (seharusnya) baru? Paling tidak cara pandangnya, pola hidupnya. Manusia mampu berpikir jernih berdasar nurani, berhati lapang, dan berani mencintai dunia dengan cara Tuhan memandang dunia ini sejak awal mula dunia ini diciptakan.
Dunia tidak pernah kekurangan orang pintar,
tetapi sering masih ada yang kurang bahkan dari orang pintar sekalipun, yaitu akal sehat yang jujur.
Tidak kekurangan narasi, percakapan dan suara,
tetapi saat ini orang masih mengalami miskin atas percakapan yang tulus.
Padahal perdamaian dunia yang sejati tidak pernah lahir dari kekuatan senjata. Kekuatan perdamaian abadi lahir dari rasionalitas yang diterangi tutur penuh kasih dan setia
Maka perubahan itu sejatinya dimulai dari kemampuan dan kemauan untuk mendengarkan, memahami, dan saling meneguhkan dalam keyakinan akan dunia yang dihuni sesama di tengah perbedaan, tanpa memaksa atau dipaksa.
Di sinilah Paskah menjadi sangat relevan.
Salam Sehat, berlimpah berkat
+ Rm Yos Bintoro, Pr

Komentar