Kamis, 23 Juli 2026 | 10:41
OPINI

Hemat Energi? Hewan dan Tanaman Juga Paham, Kok

Hemat Energi? Hewan dan Tanaman Juga Paham, Kok
Ilustras hemat energi? Hewan dan ranaman juga paham, kok (Dok Askara)

Oleh: Ismunandar

ASKARA - Belakangan ini kita sering mendengar kabar tentang negara-negara yang mulai menghemat energi akibat Perang di Iran. Perang membuat pasokan minyak dan gas terganggu, harga melonjak, dan pemerintah di berbagai belahan dunia mengimbau warganya untuk mengurangi konsumsi energi. Bagi sebagian orang, ini terasa seperti kesulitan. Tapi jika kita mau belajar dari alam—dari pelajaran yang telah lama Tuhan ajarkan pada makhluk hidup di sekitar kita—kita akan menemukan bahwa "penghematan di masa kelangkaan" sebenarnya adalah strategi kuno.

Coba perhatikan tanaman ketika musim kemarau panjang. Mereka tidak terus memaksakan diri tumbuh subur. Tuhan menciptakan mekanisme dalam diri mereka yang disebut Low Energy Syndrome. Begitu energi menipis, tanaman segera menghentikan pertumbuhannya. Mereka menggugurkan daun-daunnya, memperlambat metabolisme, dan memfokuskan sisa energi hanya untuk mempertahankan akar dan batangnya agar tetap hidup. Mereka paham bertahan dulu, tumbuh nanti.

Lihat pula hewan-hewan di alam. Burung kolibri yang kita kenal lincah, ternyata ketika malam tiba atau makanan langka, ia masuk ke kondisi torpor—menurunkan suhu tubuhnya hingga 60 persen, seolah "mematikan" dirinya sementara agar tidak kehabisan energi. Ikan trout saat kekurangan makanan membiarkan hatinya mengecil, karena hati adalah organ yang boros energi. Karibu di Arktik mengurangi kecepatan jalannya hingga paling lambat di musim dingin, bergerak seminimal mungkin. Mereka semua mengikuti satu prinsip besar jika energi sedang langka, kurangi pengeluaran, jangan paksakan gaya hidup normal.

Apa maknanya bagi kita hari ini? Negara-negara yang kini melakukan penghematan energi sebenarnya sedang menerapkan kearifan yang sama yang telah Tuhan ajarkan pada alam. Ketika sumber daya menipis akibat konflik geopolitik, langkah paling bijak bukanlah terus berlari secepat sebelumnya, melainkan (i) Memprioritaskan yang esensial, seperti tanaman yang berhenti tumbuh demi bertahan, ii. Mengurangi laju konsumsi, seperti kolibri yang memperlambat metabolisme tubuhnya, iii. Mengoptimalkan setiap unit energi, seperti karibu yang tidak lagi bergerak tanpa tujuan.

Jika hari ini kita diminta mengurangi pemakaian listrik, mengurangi perjalanan yang tidak perlu, atau menggunakan energi lebih efisien, itu bukanlah kemunduran. Itulah cara bertahan, cara makhluk hidup menjaga kelangsungan hidupnya ketika badai melanda.

 

 

Komentar