Rabu, 17 Juni 2026 | 18:26
NEWS

Hormuz Panas, Asuransi Kabur, Dunia Ikut Gemetar

Hormuz Panas, Asuransi Kabur, Dunia Ikut Gemetar
Pengamat maritim, Soleman B. Pontoh (Dok Askara)

ASKARA - Ketegangan di Timur Tengah kini memasuki fase baru yang lebih sunyi, namun dampaknya jauh lebih mematikan. Bukan serangan militer terbuka, melainkan “perang risiko” yang diam-diam mengancam jalur energi dunia.

Pengamat maritim, Soleman B. Pontoh, mengungkapkan bahwa sejumlah raksasa asuransi pelayaran global mulai menarik perlindungan war risk insurance di kawasan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

“Ini bukan sekadar kebijakan teknis. Tanpa asuransi, kapal secara hukum dan bisnis dianggap tidak layak berlayar,” tegasnya, Jumat (27/3/2026).

Dampaknya langsung terasa. Sekitar 1.900 kapal dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia dan Hormuz, seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dalam sistem pelayaran global, asuransi Protection and Indemnity (P&I) bukan sekadar perlindungan, melainkan “tiket hidup” kapal untuk beroperasi. Tanpa itu, kapal bisa ditolak pelabuhan, kehilangan pembiayaan, hingga ditinggalkan penyewa.

“Masalahnya bukan kapal tidak bisa jalan, tapi tidak bisa jalan secara legal dan ekonomis,” ujar Soleman.

Kawasan Selat Hormuz kini telah masuk kategori high risk area. Premi melonjak tajam, bahkan dalam banyak kasus, perlindungan dicabut total. Efek domino pun tak terhindarkan: pelayaran tertunda, rute dialihkan, dan biaya logistik global melonjak.

Situasi ini langsung menekan harga energi dunia. Kenaikan biaya distribusi berpotensi memicu inflasi global, memperberat sektor industri, hingga mengguncang pasar keuangan.

“Tanpa satu peluru pun ditembakkan, distribusi energi bisa lumpuh. Ini bentuk baru konflik global,” katanya.

Fenomena ini disebut sebagai disrupsi berbasis risiko—strategi modern yang tidak perlu menutup jalur secara fisik, cukup membuatnya terlalu berbahaya untuk dilalui.

Dampaknya juga mengintai Indonesia. Dengan ketergantungan impor minyak sekitar 1 juta barel per hari, gangguan di Hormuz berpotensi mendorong kenaikan harga BBM, membengkaknya subsidi, hingga tekanan terhadap rupiah.

“Kalau ini berlanjut, efeknya langsung ke dapur rakyat,” tegas Soleman.

Situasi di Hormuz kini menjadi alarm keras bagi dunia: jalur energi global tak lagi hanya ditentukan oleh kapal dan senjata, tetapi juga oleh satu faktor krusial, asuransi.

Dan ketika asuransi hilang, dunia bisa berhenti bergerak.

 

 

Komentar