Rabu, 22 Juli 2026 | 04:16
Parodi

Rumus Baru Hemat Gas ala Menteri ESDM

Rumus Baru Hemat Gas ala Menteri ESDM
Ilustrasi rumus baru hemat gas (Dok Askara)

ASKARA - Dunia energi nasional tampaknya memasuki babak baru. Bukan soal kilang, bukan pula soal impor, melainkan satu rumus revolusioner dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia: kalau masakan sudah matang, kompor dimatikan.

Ajakan tersebut disampaikan dalam konferensi pers menjelang arus mudik Lebaran Idulfitri 1447 H di SPBU Colomadu, Solo, Kamis (26/3). Di tengah hiruk-pikuk persiapan mudik, pesan hemat energi itu pun meluncur, langsung menyasar dapur rakyat.

Sebuah konsep yang disebut-sebut netizen sebagai "terobosan dapur abad ini." Rumusnya sederhana, bahkan nyaris filosofis, nyala - masak - matang - mati. Siklus hidup api yang selama ini mungkin kurang mendapat perhatian serius.

Di berbagai dapur rumah tangga, para ibu mulai melirik kompor mereka dengan sudut pandang baru. Apakah selama ini api dibiarkan menyala tanpa arah? Apakah ada kompor yang hidup tanpa tujuan? Pertanyaan-pertanyaan eksistensial ini kini menyeruak.

Sementara itu, jagat maya langsung riuh. Ada yang mengusulkan pengembangan lanjutan:

Kalau nasi sudah jadi, jangan dimasak lagi.

Kalau air sudah mendidih, tidak perlu direbus ulang.

Kalau lapar sudah hilang, tidak perlu makan lagi.

Para "pengamat energi dadakan" pun bermunculan, menyebut ini sebagai strategi berbasis kesadaran kolektif atau dalam bahasa sederhana, ya memang begitu seharusnya.

Meski terdengar nyeleneh, sebagian pihak mencoba melihat sisi positif. Bahwa di tengah rumitnya persoalan energi global, mungkin solusi paling dekat memang dimulai dari dapur sendiri, meski tidak semua orang merasa itu cukup.

Akhirnya, publik pun sepakat dalam satu hal:
Rumus baru ini mudah diingat, sulit diperdebatkan, tapi tetap mengundang tawa.

Karena di negeri yang penuh dinamika, bahkan kompor pun kini punya narasi.

 

 

Komentar