Rabu, 17 Juni 2026 | 17:11
OPINI

Mengapa Harga Minyak Terancam Melonjak? Ini Alasannya

Mengapa Harga Minyak Terancam Melonjak? Ini Alasannya
Ilustrasi BBM naik tinggi (Dok Askara)

ASKARA - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran serius di pasar energi global. Jika Amerika Serikat benar-benar menyerang infrastruktur energi Iran, para analis memperkirakan harga minyak dunia bisa melonjak tajam bahkan melampaui 100 dolar per barel.

Serangan terhadap fasilitas energi Iran berpotensi langsung mengganggu pasokan global. Sebagai salah satu produsen utama, gangguan produksi Iran dapat menghilangkan jutaan barel minyak dari pasar, sehingga mendorong kenaikan harga secara cepat. Dalam berbagai skenario, gangguan pasokan di kawasan ini memang terbukti langsung memicu lonjakan harga minyak dunia. 

Lebih krusial lagi, posisi Iran yang berada di sekitar Selat Hormuz menjadikan konflik ini berisiko besar terhadap jalur distribusi energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur ini setiap hari. Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya regional tetapi langsung mengguncang pasar global. 

Dalam eskalasi terbaru, ketegangan di kawasan bahkan telah menurunkan drastis lalu lintas kapal tanker dan memicu lonjakan harga minyak hingga di atas 100 dolar per barel.  Hal ini menunjukkan bahwa ancaman saja sudah cukup untuk mengguncang pasar, apalagi jika terjadi serangan nyata terhadap infrastruktur energi.

Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa Iran dapat mengambil langkah lebih ekstrem, seperti memutus kabel bawah laut di Selat Hormuz. Kabel ini merupakan jalur vital komunikasi dan data global. Jika terganggu, bukan hanya distribusi energi yang terdampak, tetapi juga sistem keuangan, logistik, hingga komunikasi internasional.

Iran juga diperkirakan akan meningkatkan serangan terhadap fasilitas pendukung militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk. Serangan semacam ini telah terjadi dalam beberapa hari terakhir, termasuk terhadap infrastruktur energi dan fasilitas strategis di kawasan, yang semakin memperluas dampak konflik. 

Kombinasi gangguan produksi, ancaman terhadap jalur distribusi, serangan infrastruktur, hingga risiko perang kawasan menjadikan harga minyak sangat rentan melonjak. Bahkan dalam skenario terburuk, para analis memperkirakan harga bisa menembus 120 hingga 150 dolar per barel.

Jika itu terjadi, dampaknya akan dirasakan secara global, mulai dari lonjakan harga BBM, inflasi, hingga tekanan ekonomi di berbagai negara. Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi peringatan serius untuk memperkuat ketahanan energi di tengah gejolak geopolitik yang kian tak menentu.

 

 

Komentar