Tamparan Keras Ulama! Banyak Negara Diam, Iran Justru Paling Berani?
ASKARA - Pernyataan Syekh Maher Hamoud bukan sekadar kritik, tetapi cermin yang memantulkan wajah dunia Islam hari ini, retak oleh perbedaan, lemah dalam tindakan, dan sering terjebak dalam retorika.
Fakta yang disampaikan terasa pahit, namun sulit dibantah. Dunia Islam, khususnya negara-negara mayoritas Sunni, memiliki hampir semua yang dibutuhkan untuk menjadi kekuatan global: populasi besar, sumber daya alam melimpah, hingga posisi strategis dalam ekonomi dunia. Namun ketika tragedi di Palestina terus berlangsung, respons yang muncul kerap berhenti pada kecaman diplomatik dan pernyataan politik.
Di titik inilah ironi itu muncul.
Ketika banyak negara memilih jalur aman, menghindari risiko, dan menjaga kepentingan domestik, justru Iran tampil dengan pendekatan berbeda. Terlepas dari berbagai kontroversi dan kepentingannya sendiri, Iran menunjukkan satu hal yang tidak bisa diabaikan, keberanian untuk mengambil posisi dan menanggung konsekuensinya.
Ini bukan soal membandingkan mazhab, apalagi mengadu Sunni dan Syiah. Justru sebaliknya, ini tentang kegagalan kolektif dalam menerjemahkan solidaritas menjadi tindakan nyata. Ketika isu Palestina dijadikan simbol persatuan, tetapi tidak diikuti langkah konkret, maka yang tersisa hanyalah simbolisme kosong.
Kritik Syekh Maher Hamoud menjadi relevan karena ia datang dari dalam, bukan dari pihak luar yang mudah ditolak. Ia berbicara sebagai bagian dari umat, yang melihat langsung bagaimana potensi besar itu justru terfragmentasi oleh kepentingan politik, ketakutan, dan kalkulasi kekuasaan.
Dunia saat ini tidak lagi menilai dari jumlah, tetapi dari keberanian bertindak. Sejarah berulang kali membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu digerakkan oleh mayoritas, melainkan oleh pihak yang berani mengambil risiko.
Pertanyaannya sederhana, namun mendasar: apakah dunia Islam ingin terus menjadi penonton dengan suara keras, atau mulai menjadi pelaku dengan tindakan nyata?
Karena pada akhirnya, seperti yang tersirat dalam peringatan tersebut, keberpihakan bukan diukur dari seberapa lantang kita berbicara, melainkan seberapa jauh kita bersedia melangkah.

Komentar