Rabu, 17 Juni 2026 | 23:43
NEWS

Wartawan Senior di Aceh Tengah Keluhkan Minimnya Bantuan Pascabencana

Wartawan Senior di Aceh Tengah Keluhkan Minimnya Bantuan Pascabencana
Usai Sholat Idul Fitri dilapangan Musara Alun, Jalimin bersama Zam Zam Mubarak Ketua Baret ICMI Aceh (Dok Adkara)

ASKARA - Suasana Idulfitri tahun ini masih dibayangi duka bagi sejumlah korban bencana di Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Tengah. Hal itu diungkapkan wartawan senior Jalimin, yang mengaku hingga kini belum mendapatkan bantuan hunian sementara (huntara) pascabencana banjir dan longsor yang melanda wilayahnya.

Informasi tersebut disampaikan Ketua Baret ICMI Aceh, Zam Zam Mubarak, yang menyoroti kondisi para korban yang dinilai masih belum sepenuhnya mendapatkan haknya.

Jalimin, yang pernah bekerja di Harian Serambi Indonesia, menyebut Idulfitri kali ini terasa berat. Rumahnya di Kampung Mendale, Aceh Tengah, rusak parah akibat bencana dan terpaksa dibersihkan secara mandiri dengan biaya pribadi.

“Idulfitri tahun ini terasa berat karena belum menerima bantuan hunian sementara dari BNPB. Rumah saya yang rusak parah sudah saya bersihkan sendiri dengan biaya sekitar Rp8 juta, dan sekarang harus menyewa rumah,” ujar Jalimin, Sabtu (21/3).

Ia juga menyoroti belum adanya kepastian arah penanganan bencana serta belum meratanya realisasi bantuan bagi para korban. Menurutnya, kondisi tersebut menambah beban masyarakat yang masih berjuang memulihkan kehidupan.

Meski berada dalam keterbatasan, Jalimin tetap menunjukkan kepedulian sosial dengan menyalurkan bantuan makanan kepada sekitar 500 penerima selama bulan Ramadan.

Ketua Baret ICMI Aceh menilai lambatnya penanganan bencana menunjukkan belum efektifnya kinerja satuan tugas rehabilitasi dan rekonstruksi yang dibentuk pemerintah. Selain itu, koordinasi antara pemerintah daerah, Pemerintah Aceh, dan pemerintah pusat dinilai masih belum optimal.

“Kondisi ini harus segera diakhiri. Pemerintah harus memastikan seluruh korban mendapatkan bantuan sesuai tingkat kerusakan yang dialami,” ujar Zam Zam Mubarak.

Ia juga mengingatkan bahwa besarnya anggaran penanggulangan bencana seharusnya diikuti dengan kepastian pemulihan bagi masyarakat terdampak. Jika tidak, dikhawatirkan akan memicu kekecewaan publik hingga berujung pada gugatan terhadap pemerintah.

Di sisi lain, dampak ekonomi juga dirasakan masyarakat Aceh Tengah. Jalimin menyebut aktivitas pasar saat ini lebih banyak ditopang oleh kedatangan pemudik, sementara kondisi ekonomi secara umum masih lemah.

“Inflasi Aceh Tengah mencapai sekitar 8,4 persen, ini menunjukkan pemulihan ekonomi masih sulit. Masyarakat sangat menantikan langkah cepat dari pemerintah,” ujarnya.

Kini, Jalimin yang juga berprofesi sebagai petani kopi Arabika Gayo berharap ada perhatian lebih serius dari pemerintah agar para korban bencana dapat segera bangkit dan menjalani kehidupan dengan lebih layak.

 

 

Komentar