Rabu, 17 Juni 2026 | 15:38
Parodi

Ketika Satu Bom Jatuh, Ribuan Perut Tetap Kosong

Ketika Satu Bom Jatuh, Ribuan Perut Tetap Kosong
Ilustrasi bom dan kelaparan (Dok Askara)

ASKARA – Dunia hari ini seperti kehilangan rasa malu. Di satu sisi, jutaan orang di Sudan, Yemen, Somalia, Afghanistan, Haiti, Mali, hingga Democratic Republic of the Congo tidur dengan perut kosong. Di sisi lain, tombol-tombol peluncur ditekan tanpa ragu, seolah anggaran tak pernah punya batas.

Harga satu bom presisi tinggi bisa mencapai ratusan ribu dolar. Jika dirupiahkan, nilainya setara rumah mewah di jantung ibu kota. Ironinya, rumah itu tidak pernah dibangun, tidak pernah dihuni, ia “diterbangkan” hanya untuk diledakkan di langit negara lain.

Bayangkan, satu kali klik dari seorang pilot, melayanglah nilai miliaran rupiah. Dalam hitungan detik, ia berubah menjadi ledakan. Sementara di belahan dunia lain, uang sebesar itu bisa memberi makan satu desa selama berbulan-bulan.

Persediaan amunisi pun bukan angka kecil. Ribuan unit disiapkan, disimpan, lalu dihabiskan. Ketika stok menipis, solusi yang diambil bukan berhenti, melainkan beralih ke yang disebut “lebih murah”, seperti Joint Direct Attack Munition. Murah dalam bahasa perang tetap berarti ratusan juta rupiah, angka yang bagi sebagian besar manusia bahkan tak pernah terbayangkan.

Yang lebih menyakitkan, kelaparan tidak pernah punya headline sebesar perang. Anak-anak yang menangis karena lapar tidak pernah viral seperti dentuman rudal. Padahal suara mereka jauh lebih jujur: suara perut kosong yang tak bisa bernegosiasi.

Ini bukan sekadar soal angka atau strategi militer. Ini tentang pilihan kemanusiaan. Dunia seolah lebih cepat mengirimkan kehancuran daripada bantuan. Lebih sigap menyiapkan target daripada menyelamatkan kehidupan.

Dan pada akhirnya, sejarah mungkin akan mencatat satu hal yang paling getir:
manusia modern mampu menciptakan teknologi paling canggih untuk menghancurkan,
tetapi masih gagal memastikan sesamanya tidak mati kelaparan.

 

 

Komentar