Mendengarkan adalah Bagian Terpenting dari Pengobatan Kanker
ASKARA - Seorang dokter onkologi bukan hanya bergulat mengangkat dan membersihkan sel-sel yang tumbuh liar dalam bagian tubuh manusia, tetapi juga dengan emosi, harapan, dan ketakutan yang menyertainya.
Dalam dunia yang sering kali dingin dan penuh dengan istilah medis yang rumit, sosok dokter onkologi yang humanis dan penuh empati menjadi cahaya terang bagi pasien yang sedang berjalan di lorong panjang ketidakpastian. Adalah
Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B, Subsp. Onk (K).MM., seorang dokter bedah konsultan onkologi yang setiap hari berhadapan dengan pasien yang membawa cerita berbeda dan mampu memahaminya.
Pasien ada yang datang dengan wajah tegar, ada pula yang menyimpan kecemasan yang sulit disembunyikan. Dokter Denni tahu bahwa diagnosis seperti Kanker bukan sekadar istilah medis bagi banyak orang, kata itu terasa seperti badai yang tiba-tiba datang merobohkan rencana hidup.
Dokter tidak hanya menjelaskan hasil pemeriksaan, tetapi juga memberi ruang bagi pasien untuk bertanya, menangis, bahkan diam sejenak jika diperlukan.
Baginya, praktik kedokteran bukan sekadar menerapkan ilmu dari bidang Onkologi. Ia percaya bahwa mendengarkan adalah bagian penting dari terapi.
Ketika seorang pasien menceritakan kekhawatirannya tentang keluarga, pekerjaan, atau masa depan, ia tidak terburu-buru memotong pembicaraan. Ia duduk sejajar, menatap dengan penuh perhatian, dan menjawab dengan bahasa yang mudah dipahami. Sikap sederhana itu sering kali memberi ketenangan yang tak kalah penting dibandingkan obat atau prosedur medis.
Dalam setiap keputusan pengobatan, ia berusaha jujur namun tetap memberi harapan yang realistis. Ia menjelaskan pilihan terapi, risiko, dan kemungkinan hasilnya dengan transparan. Baginya, menghargai martabat pasien berarti melibatkan mereka dalam setiap keputusan tentang tubuh dan hidup mereka sendiri.
Di tengah kesibukan rumah sakit, Dokter Denni kerap mengingatkan dirinya bahwa setiap pasien bukan sekadar nomor rekam medis. Mereka adalah manusia dengan mimpi, keluarga, dan cerita hidup.
Maka, ketika ia menutup pintu ruang praktik di akhir hari, ia tahu bahwa tugasnya bukan hanya melawan penyakit, tetapi juga menjaga kemanusiaan tetap hidup di dalam dunia medis.

Komentar