Lima Takdir Lima Kesejatian, Seruan Bangkitkan Jiwa Bangsa
ASKARA - Gagasan reflektif bertajuk “Lima Takdir Lima Kesejatian” yang disampaikan oleh Yudhie Haryono, Rektor Universitas Nusantara, menjadi sorotan sebagai ajakan mendalam untuk membangkitkan kesadaran spiritual, moral, dan intelektual bangsa di tengah berbagai krisis multidimensi.
Dalam tulisannya, Yudhie mengangkat lima entitas besar, Lemuria, Atlantik, Nusantara, Indonesia, dan Pancasila, sebagai simbol perjalanan peradaban yang sarat makna dan refleksi batin. Ia menilai, kelima konsep tersebut bukan sekadar narasi sejarah atau mitologi, melainkan jalan kesadaran menuju kemerdekaan sejati manusia.
Menurutnya, persoalan bangsa saat ini bukan terletak pada kurangnya sumber daya manusia atau kekayaan alam, melainkan pada melemahnya dimensi etika, moralitas, dan kejujuran. “Bukan SDM yang kurang, tetapi cahaya batin yang belum menyala. Bukan sumber daya alam yang terbatas, tetapi gairah kejeniusan yang belum terbangun,” tulisnya, Selasa (17/3).
Yudhie juga menekankan bahwa krisis yang dihadapi Indonesia lebih bersifat batiniah dan struktural. Ia menyebut hilangnya integritas sebagai salah satu akar persoalan yang membuat potensi besar bangsa tidak berkembang optimal.
Lebih jauh, konsep “Lima Takdir Lima Kesejatian” diposisikan sebagai panduan perlawanan terhadap ketidakadilan dan kezaliman, sekaligus jalan menuju kemandirian, kedaulatan, dan kesentosaan. Ia mengajak masyarakat untuk tidak sekadar memahami secara intelektual, tetapi juga menghidupi nilai-nilai tersebut dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Ini bukan teori kosong, tetapi panduan membumi yang menuntun manusia dari kegelisahan menuju kesadaran, dari batin menuju aksi nyata,” ujarnya.
Gagasan tersebut juga diperkenalkan sebagai bagian dari “kelas jenius”, sebuah ruang pembelajaran reflektif yang ditujukan bagi siapa saja yang ingin mencari makna hidup lebih dalam, termasuk dalam konteks spiritualitas dan pencarian ketuhanan.
Dalam pandangannya, perjalanan menuju kesejatian tidak berhenti pada pemahaman, tetapi harus berlanjut pada tindakan, tradisi, hingga membentuk budaya yang berakar pada kesadaran kolektif.
Melalui narasi ini, Yudhie menegaskan pentingnya membangun kembali fondasi batin bangsa agar mampu menghadapi tantangan global dengan identitas dan kekuatan sendiri. Ia mengajak masyarakat untuk kembali pada “rumah jiwa” Indonesia, yakni nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Ini adalah perjalanan dari lahir ke batin, dari batin ke aksi, hingga menjadi budaya. Sebuah upaya menemukan kembali kesejatian dan kesentosaan manusia Indonesia,” tutupnya.

Komentar