Prof. Rokhmin Dahuri Ungkap Etos Kerja Islami (Itqan) untuk Membangun Peradaban Modern
ASKARA – Konsep itqan dalam Islam merupakan prinsip fundamental yang menekankan kesungguhan, ketelitian, dan kualitas terbaik dalam setiap amal maupun pekerjaan. Kata itqan (إتقان) berasal dari bahasa Arab atqana–yutqinu, yang berarti menyempurnakan pekerjaan hingga rapi, profesional, dan bernilai tinggi.
Hal itu disampaikan Rektor Universitas UMMI Bogor, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, dalam acara Pengajian, Pembinaan, dan I’tikaf Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) di Masjid Raya UMC, Sabtu (14/3).
“Dengan demikian, itqan bukan sekadar menyelesaikan tugas, melainkan menghadirkan karya yang bermutu, penuh tanggung jawab, dan bernilai ibadah,” ujar Anggota DPR RI 2024–2029 itu dalam ceramah bertema "Konsep Itqan Dalam Islam dan Relevansinya Terhadap Kehidupan Modern".
Prof. Rokhmin menjelaskan, Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang “menyempurnakan segala sesuatu” (atqana kulla syai’) (QS. An-Naml: 88). Kesempurnaan ciptaan-Nya menjadi teladan bagi manusia untuk menghadirkan kualitas terbaik dalam setiap amal.
Rasulullah SAW pun menegaskan: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia mengerjakannya secara profesional” (HR. Thabrani, Baihaqi).
"Hadis ini meneguhkan bahwa itqan adalah bagian dari ibadah, bukan sekadar etika kerja," ujarnya.

Relevansi Itqan di Era Modern
Menurut Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu, di era globalisasi dan teknologi digital, itqan relevan sebagai landasan etika profesional. Ia mendorong budaya kerja yang akuntabel, transparan, dan berorientasi pada kualitas.
“Penerapan itqan melahirkan individu yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, disiplin dalam menunaikan amanah, serta konsisten dalam menghadirkan manfaat sosial,” ujarnya.
Prof. Rokhmin juga mencontohkan penerapan itqan dalam berbagai bidang:
Dalam Ibadah
• Melaksanakan salat dengan khusyuk, memperhatikan bacaan dan gerakan
dengan benar.
• Membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang baik, tidak tergesa gesa.
• Menunaikan amanah ibadah seperti zakat atau puasa sesuai ketentuan syariat
Dalam Bekerja
Seorang pegawai menyelesaikan tugas dengan teliti.
• Seorang guru mempersiapkan materi pelajaran dengan baik.
• Seorang dokter memeriksa pasien secara cermat sebelum menentukan
diagnosis.
Dalam Pendidikan
• Mahasiswa mengerjakan tugas atau penelitian dengan riset yang mendalam, tidak sekadar menyalin informasi.
• Pelajar belajar secara disiplin dan konsisten, memahami materi, bukan hanya menghafal.
Dalam Kehidupan Sosial
• Menepati janji dan komitmen yang telah disepakati.
• Mengelola tugas organisasi atau kegiatan sosial secara rapi dan terencana.
• Memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan integritas dan
kualitas terbaik..
Itqan dalam Penyelenggaraan Negara
Dalam konteks pemerintahan, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan, itqan menuntut penempatan pejabat berdasarkan kompetensi, bukan sekadar kepentingan politik. Kebijakan harus dirumuskan dengan data dan analisis matang, bukan reaktif. Program pemerintah harus dijalankan dengan disiplin, transparansi, dan evaluasi berkelanjutan.
“Tanpa itqan, lahirlah kegagalan tata kelola: bencana ekologis yang dilegalisasi, anak putus sekolah hingga bunuh diri karena kemiskinan, atau lemahnya pengawasan terhadap keamanan pangan. Semua itu mencerminkan absennya prinsip itqan dalam birokrasi,” tegas anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Laut, Universitas Bremen, Jerman itu.
Cara Melatih Itqan
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - IPB University ini memaparkan, yaitu:
- Meniatkan pekerjaan sebagai ibadah, bukan sekadar rutinitas.
- Meningkatkan keterampilan secara berkelanjutan.
- Melakukan evaluasi diri setiap hari.
- Menghindari mentalitas “yang penting selesai.”
"Dengan latihan ini, itqan menjadi karakter yang melekat dalam diri seorang Muslim, baik dalam ibadah, pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial," katanya.
Itqan dalam Kehidupan Modern
Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan, di era modern yang ditandai oleh globalisasi, teknologi digital, dan kompetisi ketat, itqan relevan sebagai landasan etika profesional. Ia mendorong budaya kerja yang akuntabel, transparan, dan berorientasi pada kualitas.
"Penerapan itqan melahirkan individu yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, disiplin dalam menunaikan amanah, serta konsisten dalam menghadirkan manfaat sosial," tegas Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia).
Best Practice dalam Islam
Dalam perspektif Islam, konsep best practice tercermin dalam prinsip itqan, yaitu melakukan setiap pekerjaan secara optimal, profesional, dan berkualitas tinggi, yang selaras dengan nilai ihsan sebagai
upaya menghadirkan kualitas terbaik dalam setiap amal
Konsep best practice dalam Islam sejatinya berakar pada itqan dan ihsan. Elemen pembentuknya meliputi: Ihsan dalam setiap aspek kehidupan, Itqan dalam pekerjaan, Ikhtiar yang disertai tawakkal, Inovasi yang tetap berpegang pada syariat, dan Konsistensi amal.
"Dengan kombinasi ini, Islam menghadirkan paradigma kerja yang bukan hanya efisien, tetapi juga bermakna spiritual dan sosial," sebutnya.

Relevansi Itqan Dalam Kehidupan Modern
Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan, Itqan adalah etos kerja Islami yang melampaui sekadar profesionalisme. Ia adalah ibadah, tanggung jawab moral, dan kontribusi sosial. Dalam kehidupan modern, itqan menjadi fondasi untuk membangun budaya kerja berkualitas, pemerintahan yang kompeten, serta masyarakat yang berintegritas.
"Tanpa itqan, peradaban akan rapuh; dengan itqan, peradaban akan kokoh, maju, dan penuh keberkahan," tegas Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan
Dalam kehidupan modern, jelasnya, itqan berperan sebagai landasan etika profesional yang mendorong setiap pekerjaan dilakukan secara teliti dan berorientasi pada kualitas terbaik.
Itqan menjadi dasar pembentukan budaya kerja yang akuntabel, di mana setiap tugas dikelola secara sistematis, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Itqan mendorong peningkatan kompetensi dan pembelajaran berkelanjutan, sehingga individu mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan dinamika global.
Itqan mengarahkan pekerjaan pada kebermanfaatan sosial, sehingga setiap karya memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Itqan Dalam Konteks Penyelenggaraan Negara
Itqan mendorong proses perumusan kebijakan yang berbasis data dan
analisis yang matang, sehingga keputusan negara tidak bersifat reaktif
atau serampangan.
Itqan menuntut kedisiplinan dan kesungguhan dalam pelaksanaan program pemerintah.
Itqan memperkuat budaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan dalam pemerintahan
Gagalnya Tata Kelola Pemerintahan
Prof. Rokhmin menyebutkan beberapa peristiwa yang menjadi cermin lemahnya tata kelola negara.
“Korban keracunan MBG sepanjang Januari 2026 tembus 2.000 pelajar, mengapa masih terjadi? Bahkan ada kasus tragis seorang anak SD di NTT yang bunuh diri karena tidak mampu membeli pena dan buku, hingga diadukan ke Unicef oleh BEM UGM. Walhi pun menuntut legalisasi bencana ekologis di Sumatera dan menuntut tanggung jawab negara serta korporasi,” ungkapnya.
Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan 2001–2004 itu, semua kasus tersebut menunjukkan absennya prinsip itqan dalam birokrasi. Padahal, itqan adalah prinsip Islam yang menekankan kesungguhan, ketelitian, dan kualitas terbaik dalam setiap amal atau pekerjaan.
“Konsep itqan memiliki keterkaitan dengan nilai ihsan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual. Dalam kehidupan modern, itqan relevan sebagai landasan etika kerja yang mendorong profesionalisme, kompetensi, dan budaya kerja,” jelasnya.
Prof. Rokhmin menegaskan, penerapan itqan dalam penyelenggaraan negara dan kehidupan sosial sangat penting untuk mendorong tata kelola yang kompeten. Tanpa itqan, kebijakan akan rapuh, program tidak berjalan efektif, dan masyarakat menanggung akibatnya.
“Dalam penyelenggaraan negara dan kehidupan sosial, penerapan itqan penting untuk mendorong tata kelola yang kompeten,” tutupnya.

Komentar