Cahaya Islam di Kota Cirebon: Prof. Rokhmin Ungkap Jejak Sunan Gunung Jati dan Dakwah Damai Wali Songo
ASKARA – Menelusuri jejak Islam di Nusantara membawa kita pada sebuah narasi besar tentang kedamaian dan akulturasi budaya. Di Cirebon, kota yang dijuluki Kota Wali, cahaya Islam tumbuh subur melalui peran besar Wali Songo, khususnya Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
“Melalui prinsip rahmatan lil alamin, Islam hadir bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk merangkul tradisi lokal secara gradual dan harmonis,” ujar Rektor Universitas UMMI Bogor, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS dalam refleksinya di Keraton Kasepuhan, Kamis (5/2).
Keraton Kasepuhan, salah satu pusat peradaban tertua di Cirebon yang berdiri sejak abad ke-15, menjadi saksi lenturnya dakwah para wali. Arsitekturnya memadukan corak Hindu-Buddha dan Islam, terlihat dari gapura bergaya Majapahit hingga bangunan Siti Hinggil. Simbolisme Islam pun tertanam kuat, seperti 20 tiang pada bangunan Mande Malang Semiran yang melambangkan sifat wajib Allah SWT.
Tak jauh dari keraton, berdiri Masjid Agung Sang Cipta Rasa, saksi bisu perjuangan Wali Songo yang dibangun dengan keterlibatan ratusan pekerja dari berbagai wilayah. Tradisi khas seperti Azan Pitu dan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati menjadikan Ramadan di Tanah Wali bukan sekadar ritual, melainkan momentum penguatan spiritual.
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan ini menegaskan kembali esensi dakwah Wali Songo yang bersumber pada hadis Rasulullah SAW: “Permudahlah, jangan dipersulit. Berilah kabar gembira, jangan membuat orang lari.”
"Walisongo dalam berdakwah sangat bil hikmah, tidak dengan menakut-nakuti, tidak dengan mempersulit. Karena Syekh Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati sangat menuruti hadits sahih Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, permudahlah jangan dipersulit," tuturnya.
Indonesia yang dulunya animisme menjadi penduduk muslim terbesar di dunia. Penyebar utamanya adalah selain para pedagang (entrepreneur) juga para wali yang terkenal dengan Walisongo.
Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan, masuknya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai dan sangat gradual adaptif dengan local culture. "Cara-cara dakwah Walisongo bil hikmah, sejuk dengan penuh rahmatan lil alamin, islamisasi terjadi dengan damai, tidak menaklukkan seperti negara barat," tegasnya.
Di akhir pesannya, Prof. Rokhmin mengajak umat menjadikan puasa sebagai sarana meningkatkan takwa, baik secara hablum minallah maupun hablum minannas.
“Takwa sosial yang diwujudkan melalui kerja keras, kepedulian pada sesama, serta menjaga lingkungan hidup harus menjadi buah nyata dari ibadah kita di bulan suci ini,” tegas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004.

Komentar