Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:59
NEWS

Di Tengah Perang Israel-Iran, Netanyahu Hadiri Pembacaan Kitab Ester Saat Purim

Di Tengah Perang Israel-Iran, Netanyahu Hadiri Pembacaan Kitab Ester Saat Purim
Netanyahu bersama Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, Sekretaris Pemerintah Yossi Fuchs, Sekretaris Militernya Mayor Jenderal Roman Gofman, serta sejumlah staf pemerintahan. (Dok X.com Israel)

ASKARA Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadiri pembacaan Kitab Ester pada perayaan Hari Raya Purim, Rabu malam (4/3). Kegiatan religius itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik militer antara Israel dan Iran.

Dalam acara tersebut, Netanyahu hadir bersama Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, Sekretaris Pemerintah Yossi Fuchs, Sekretaris Militernya Mayor Jenderal Roman Gofman, serta sejumlah staf pemerintahan.

Perayaan Purim merupakan salah satu hari raya penting dalam tradisi Yahudi yang memperingati kisah penyelamatan bangsa Yahudi dari rencana pembantaian di Persia kuno sebagaimana tercantum dalam Kitab Ester.

Dalam kisah tersebut, seorang pejabat kerajaan Persia bernama Haman merancang rencana untuk memusnahkan seluruh orang Yahudi di wilayah kekuasaan Raja Ahasveros. Namun rencana itu berhasil digagalkan oleh keberanian Ratu Ester yang mengungkap identitasnya sebagai Yahudi di hadapan raja, bersama pamannya Mordekhai.

Setelah kebenaran terungkap, Haman dijatuhi hukuman mati dan orang Yahudi diizinkan untuk membela diri dari ancaman tersebut. Kisah ini kemudian diperingati setiap tahun sebagai simbol kemenangan, keberanian, dan penyelamatan umat Yahudi.

Secara tradisional, Purim dirayakan dengan membaca Megillat Ester, saling memberi hadiah makanan (Mishloach Manot), memberikan sedekah kepada kaum miskin (Matanot La’Evyonim), mengadakan pesta bersama, serta mengenakan kostum dan topeng, terutama oleh anak-anak.

Tahun ini, perayaan Purim memiliki nuansa berbeda karena berlangsung di tengah konflik yang memanas antara Israel dan Iran. Meski demikian, kegiatan keagamaan tetap dilaksanakan sebagai bagian dari tradisi dan simbol keteguhan spiritual masyarakat Yahudi di tengah situasi perang.

 

 

Komentar