Just The Two of Us, Jembatan Memahami Pesan Laudato Si
ASKARA - Lagu jazz Just the Two of Us yang dipopulerkan oleh Bill Withers dan Grover Washington Jr. sebenarnya punya metafora relasi yang kuat, jika dibaca secara teologis populer.
Lagu smooth jazz ini bisa dijadikan jembatan untuk memahami pesan Laudato Si’ dari Pope Francis.
Makna “two of us” bukan hanya menghadirkan pasangan manusia, tetapi relasi manusia dan ciptaan yang intim.
1. “Just the two of us” → Relasi Intim Manusia dan Ciptaan
Dalam lagu itu ada kalimat: Just the two of us, we can make it if we try, secara teologis populer dapat dimaknai sebagai manusia dan bumi yang berada dalam relasi timbal balik.
Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus menegaskan bahwa manusia bukan penguasa mutlak bumi, tetapi mitra dalam rumah bersama (common home).
Dengan demikian pesannya menjadi kuat, yaitu 👉 masa depan planet ini bergantung pada kerja sama relasional, bukan dominasi.
2. Lirik tentang Hujan → Siklus Kehidupan
Bagian lirik terkenalnya: I see the crystal raindrops fall
Dalam perspektif Laudato Si’, dapat dibaca sebagai simbol siklus ekologis.
Air sebagai sumber kehidupan mengalirkan keindahan ciptaan. Sementara teologi ekologis menekankan bahwa: keindahan alam bukan sekadar estetika,
tetapi wahyu tentang kebijaksanaan Sang Pencipta.
3. “Building castles in the sky” → Kritik terhadap Modernitas
Pada bagian lirik: We look for love, no time for tears, wasted water’s all that is.
Ini bisa ditarik secara reflektif dalam konteks modernitas manusia sering terjebak membangun “kastil di langit”: pembangunan tanpa batas, tamak dan serakah dimana pertumbuhan ekonomi tanpa etika, teknologi tanpa kebijaksanaan.
Mari bumikan pesan 'Laudato Si’: kemajuan tanpa relasi dengan ciptaan
akan menghasilkan kehancuran ekologis.
4. Spirit Jazz → Harmoni Ekologis
Irama Jazz dalam denting piano memiliki karakter: improvisasi dan dialog antar tuts jemari kann dan kiri membentuk nuansa diakronik sekaligus mengorkestrasi harmoni spontan.
Ini sebenarnya metafora yang indah untuk ekologi integral.
Dalam ekosistem: manusia, hewan, hutan, air, tanah ... semuanya seperti instrumen dalam satu komposisi besar.
Kalau satu instrumen terlalu dominan → harmoni rusak, sama seperti eksploitasi manusia terhadap bumi.
5. “We can make it if we try” → Pertobatan Ekologis
Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus berbicara tentang: pertobatan ekologis. Artinya: perubahan gaya hidup, solidaritas dengan bumi,
tanggung jawab moral terhadap generasi mendatang.
Kalimat lagu itu bisa menjadi metafora harapan bahwa masa depan bumi masih mungkin diselamatkan
jika manusia mau berubah.
Bisalah, lagu Teologi Laudato Si diterjemahkan demikan:
Manusia dan bumi sebagai keindahan ciptaan yang rusak akibat pembangunan tanpa etika ... Hanya dapat direduksi saat ekologi integral menghadirkan pertobatan ekologis.
Salam sehat, berlimpah berkat
+ Rm Yos Bintoro, Pr

Komentar