Selasa, 21 Juli 2026 | 21:04
NEWS

Resensi Buku Suku Quraisy, Kupas Sejarah dan Mentalitas Suku Dominan Mekkah

Resensi Buku Suku Quraisy, Kupas Sejarah dan Mentalitas Suku Dominan Mekkah
Ilustrasi kupas sejarah dan mentalitas suku dominan Mekkah (Dok Askara)

ASKARA - Pengasuh Pesantren Yusufiah, Yudhie Haryono, mengulas buku Suku Quraisy karya Awathif Adib Salamah dalam sebuah diskusi literasi yang digelar Nusantara Centre selama bulan Ramadan. Buku yang diterbitkan Pustaka Alvabet pada 9 Oktober 2024 itu membahas secara komprehensif sejarah, asal-usul, hingga pengaruh politik dan ekonomi suku Quraisy di jazirah Arab.

Menurut Yudhie, karya tersebut memberikan gambaran rinci mengenai posisi suku Quraisy sebagai kekuatan dominan di Mekkah sebelum dan pada masa awal munculnya Islam.

“Buku ini membantu kita memahami bagaimana suku Quraisy membentuk struktur sosial, ekonomi, dan politik di Mekkah sebelum datangnya Islam,” ujar Yudhie dalam keterangannya, Kamis (5/3).

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa suku Quraisy diyakini berasal dari keturunan Fihr bin Malik, bagian dari suku Kinanah, yang silsilahnya ditarik hingga Nabi Ibrahim melalui jalur Ismail. Dalam tradisi Islam, Ibrahim dikenal sebagai tokoh yang meletakkan dasar pembangunan Ka'bah di Mekkah.

Secara etimologis, kata “Quraisy” berasal dari istilah taqarrusy yang berarti “berkumpul”. Nama tersebut dikaitkan dengan peran Qusayy bin Kilab yang berhasil menyatukan berbagai klan Quraisy sekaligus mengambil alih pengelolaan Ka'bah di Mekkah.

Setelah bersatu, Quraisy berkembang menjadi kekuatan utama di kota tersebut. Mereka menguasai jalur perdagangan internasional antara wilayah Syam dan Yaman serta memiliki pengaruh besar dalam aktivitas ekonomi dan politik di kawasan itu.

“Melalui kajian sejarah Quraisy, kita bisa melihat bagaimana kekuasaan, perdagangan, dan tradisi kesukuan memengaruhi perjalanan peradaban Arab,” kata Yudhie.

Selain dikenal sebagai pedagang ulung, Quraisy juga dipercaya mengelola Ka'bah dan memainkan peran penting dalam ritual haji pada masa pra-Islam. Namun dalam sejarah awal dakwah Islam, sebagian elite Quraisy sempat menolak ajaran Muhammad dan melakukan tekanan terhadap para pengikutnya.

Yudhie menilai buku tersebut penting dibaca karena memberikan pemahaman mengenai konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi lahirnya dakwah Islam. Meski demikian, ia juga mencatat beberapa keterbatasan, seperti ketergantungan pada sumber sejarah klasik dan minimnya rujukan penelitian modern.

“Meski masih sangat bergantung pada sumber-sumber sejarah klasik, karya ini tetap memberi kontribusi penting bagi pembaca yang ingin memahami akar sejarah Quraisy,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa mempelajari sejarah Quraisy bukan hanya untuk melihat masa lalu, tetapi juga menjadi refleksi bagi umat Islam dalam membangun kembali peradaban yang berlandaskan nilai moral dan keadaban.

“Memahami sejarah Quraisy bukan sekadar membaca masa lalu, tetapi juga menjadi refleksi untuk membangun kembali peradaban Islam yang beradab dan berkeadilan,” pungkasnya.

 

 

Komentar