Jazirah Arabiah di Mata Rogan, Membaca Timur Tengah Lewat Kacamata Sejarawan Barat
ASKARA - Buku A History of The Modern Arabs karya sejarawan Amerika Eugene Rogan kembali menjadi sorotan. Karya setebal 784 halaman yang terbit Juni 2024 itu dinilai sebagai salah satu rujukan penting untuk memahami dinamika sejarah modern bangsa-bangsa Arab.
Resensi bertajuk “Jazirah Arabiah di Mata Rogan” yang ditulis Yudhie Haryono, Pengasuh Pesantren Yusufiah, mengulas buku tersebut secara kritis. Buku ber-ISBN 978-623-6219-76-8 itu diterbitkan dalam format softcover dengan harga Rp211.000.
Rogan dikenal sebagai Profesor Sejarah Timur Tengah Modern di Universitas Oxford dan Direktur Pusat Timur Tengah di St Antony’s College, Oxford. Lahir di Burbank, California, 31 Oktober 1960, ia meraih gelar sarjana ekonomi dari Columbia University serta gelar master dan doktor sejarah Timur Tengah dari Harvard University. Namanya melambung lewat karya-karya seperti The Arabs: A History dan The Fall of the Ottomans: The Great War in the Middle East, 1914–1920.
Bangsa Arab: Satu dan Banyak Sekaligus
Dalam bukunya, Rogan mengajukan tesis bahwa bangsa Arab terikat oleh identitas bersama yang berakar pada bahasa dan sejarah, tetapi tetap menarik karena keragamannya. “Mereka adalah satu bangsa sekaligus banyak bangsa pada saat yang bersamaan,” tulis Rogan (hal. 333).
Menurut Yudhie, tesis ini menunjukkan bagaimana kompleksitas sosial, politik, dan budaya membentuk perjalanan sejarah dunia Arab. Sejarah mereka tidak berdiri tunggal, melainkan dipengaruhi faktor internal dan eksternal, termasuk intervensi negara-negara besar seperti Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.
Peran Kekuatan Asing
Rogan mencatat bahwa sejak 1517, bangsa Arab kerap “menegosiasikan tempat mereka di dunia melalui aturan yang ditetapkan negara asing.” Perspektif ini menegaskan dominasi kekuatan global dalam membentuk peta politik kawasan.
Namun, dalam resensinya, Yudhie mempertanyakan kemungkinan adanya mens rea—niat tersembunyi—di balik riset-riset mendalam Rogan. Ia menilai bahwa data dan analisis komprehensif tentang Timur Tengah berpotensi menjadi referensi strategis bagi kebijakan luar negeri negara-negara besar.
Meski demikian, Rogan tetap dikenal sebagai akademisi objektif yang berupaya menempatkan sejarah Arab dalam konteks luas dan mendalam. Ia juga menekankan pentingnya memahami perspektif lokal dan pengalaman masyarakat Arab agar kajian sejarah tidak jatuh pada pelabelan simplistis.
Kelebihan dan Catatan Kritis
Yudhie mencatat sejumlah keunggulan Rogan, seperti keluasan data, pendekatan kontekstual, dan kemampuan menjelaskan kompleksitas sejarah modern Arab. Namun, ia juga mengkritik kecenderungan Rogan yang dinilai terlalu fokus pada peran negara besar, sehingga kurang menonjolkan dinamika ekonomi dan peran masyarakat akar rumput.
Bagi pembaca Indonesia, buku ini menjadi cermin penting untuk memahami bagaimana narasi sejarah dibentuk dan diproduksi. “Kita perlu belajar dari semangatnya, sekaligus membangun wacana tanding agar tidak selalu melihat jazirah Arabiah dari sudut pandang luar,” tulis Yudhie.
Dengan pendekatan analitis dan data historis yang kuat, A History of The Modern Arabs tetap menjadi bacaan penting bagi siapa pun yang ingin memahami dinamika Timur Tengah modern, sekaligus mengajak pembaca bersikap kritis terhadap setiap narasi sejarah yang beredar.

Komentar