Basilika di IKN, Mungkinkah Vatikan Setuju?
ASKARA - Di negeri yang serba bisa dipercepat, dari pembangunan hingga peresmian, rupanya ada satu hal yang masih belum bisa dikebut, gelar "Basilika."
Gereja Gereja St. Fransiskus Xaverius di IKN dikabarkan hampir rampung secara fisik. Beton kokoh, arsitektur megah, mungkin juga sudah siap swafoto 360 derajat. Namun sayang, papan nama "Basilika" belum bisa dipasang. Rupanya, Takhta Suci di Vatican City belum memberi restu.
Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Riston Situmorang OSC, mengingatkan bahwa gelar basilika bukan perkara ukuran bangunan atau tinggi menara lonceng. Ia butuh sejarah. Ia butuh makna. Ia butuh ziarah. Pendek kata: ia butuh waktu.
Dan di sinilah letak problemnya. Waktu.
Di era serba instan, kita terbiasa mengira bahwa segala sesuatu bisa dikejar target. Jalan tol bisa selesai sebelum musim hujan. Gedung bisa tuntas sebelum masa jabatan. Bahkan status bisa terasa tinggal klik-klik administratif. Namun rupanya, untuk menjadi basilika, tak cukup hanya dengan fondasi beton dan pendingin ruangan sentral.
Bayangkan jika semua bisa dipercepat. Gereja baru berdiri kemarin sore, besok pagi sudah jadi situs ziarah bersejarah. Mungkin minggu depannya langsung paket lengkap, "Basilika Premium Plus, dengan memori kolektif pra-instal."
Padahal gelar basilika adalah kehormatan khusus dari Paus. Ia bukan label arsitektural. Ia bukan sertifikat kelulusan proyek. Ia adalah pengakuan atas perjalanan iman yang panjang, keterlibatan umat, serta nilai historis yang teruji waktu.
Agak sulit memang sebuah gereja yang baru dibangun langsung menyandang status itu. Sejarah, sayangnya, tidak bisa dicor sekaligus dalam satu tahap pembangunan.
Mungkin ini pelajaran kecil tapi penting, ada hal-hal yang tidak tunduk pada percepatan administratif. Ada martabat yang tidak bisa dikejar dengan target triwulan. Ada kehormatan yang harus tumbuh, bukan diresmikan.
Jadi, untuk sementara, mungkin lebih bijak jika kita menikmati dulu gerejanya sebagai gereja. Tanpa embel-embel yang tergesa. Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah tempat suci menjadi agung bukanlah gelarnya, melainkan kesetiaan umat yang menghidupinya dari waktu ke waktu.
Dan untuk urusan itu, bahkan IKN pun harus sabar.

Komentar