Rabu, 17 Juni 2026 | 21:29
NEWS

Aconcagua Jadi Saksi Keberanian dan Kebijaksanaan Pendaki Indonesia

Aconcagua Jadi Saksi Keberanian dan Kebijaksanaan Pendaki Indonesia
Ilustrasi Tim Ekspedisi Indonesia Raya di Acouncagua (Dok Gemini/Askara)

ASKARA - Gunung bukan sekadar tumpukan batu dan es. Di lerengnya, manusia diuji bukan hanya oleh badai dan ketinggian, tetapi oleh pilihan-pilihan moral yang menentukan arti sebuah kehormatan.

Awal Maret 2016, di ketinggian 6.650 meter di lereng Gunung Aconcagua, Tim Ekspedisi Indonesia Raya berada hanya sekitar 300 meter dari puncak. Secara hitungan teknis, itu jarak yang bisa ditempuh. Secara psikologis, puncak sudah terasa di genggaman.

Di sana berdiri Sabar Gorky, pendaki tunadaksa dengan satu kaki dan tongkatnya, didampingi prajurit-prajurit terbaik Denjaka dan Taifib Korps Marinir di bawah komando Letkol (Mar) Rivelson Saragih. Namun awan Cumulonimbus menggumpal. Tanda badai akan datang. Risiko saat turun setelah muncak jauh lebih berbahaya daripada sekadar menunda summit.

Sebagai manajer pendakian, Dar Edi Yoga mengambil keputusan yang tak populer namun bermartabat, turun. Ia berkoordinasi dengan Komandan Korps Marinir saat itu, Mayjen TNI (Mar) Buyung Lalana, serta sponsor ekspedisi Tomy Winata dari Artha Graha Peduli. Biaya besar, persiapan panjang, ambisi nasional, semua seakan berada di ujung tombak 300 meter terakhir itu.

Namun satu prinsip tak bisa ditawar, pulang dengan selamat.

Tim memilih menaklukkan ego, bukan sekadar gunung. Mereka turun bersama. Tidak ada yang ditinggalkan. Tidak ada ambisi pribadi yang mengalahkan keselamatan kolektif. Ketika mereka kembali, Atase Pertahanan RI untuk Brasil dan Argentina saat itu, Kolonel Budhi Achmadi (kini Marsda TNI), terbang khusus untuk menyambut. Sebuah penghormatan bagi keberanian mengambil keputusan benar.

Dua puluh empat tahun sebelumnya, di gunung yang sama, kisah berbeda tercatat dalam tinta duka.

Tahun 1992, tim Mapala Universitas Indonesia yang dipimpin legenda pendakian Indonesia, Norman Edwin, menapaki jalur ekstrem Gletser Polandia. Setelah berhasil menyelamatkan rekan yang cedera, dengan harga amputasi jari akibat frostbite, Norman dan Didiek Samsu kembali menantang puncak melalui rute normal.

Badai El Viento Blanco menghantam. Suhu jatuh ke titik mematikan. Whiteout menelan arah. Di ketinggian 6.400 mdpl, Didiek ditemukan gugur dalam kesunyian. Beberapa hari kemudian, Norman ditemukan di elevasi sekitar 6.650 mdpl, hanya ratusan meter dari puncak. Tubuhnya membeku dalam posisi menghadap atas, kapak es masih tergenggam, bendera Merah Putih tersimpan di ranselnya.

Ia tidak berbalik.

Dua momentum di gunung yang sama, dua pilihan berbeda, dua pelajaran abadi.

Pada 1992, kita belajar tentang keberanian yang nyaris melampaui batas daya tahan manusia. Tentang idealisme, loyalitas, dan tekad yang tak mau tunduk pada badai. Norman dan Didiek mengukir warisan bahwa mimpi besar membutuhkan keberanian luar biasa.

Pada 2016, kita belajar tentang kebijaksanaan. Bahwa keberanian sejati kadang justru terletak pada keputusan untuk berhenti. Bahwa kehormatan bukan selalu tentang berdiri di puncak, melainkan memastikan semua kembali ke rumah.

Aconcagua menjadi saksi bahwa puncak bukan hanya soal ketinggian geografis, tetapi juga ketinggian moral.

Ada saatnya manusia harus terus melangkah meski dingin menusuk tulang. Ada saatnya pula manusia harus menahan langkah meski puncak sudah di depan mata.

Di antara dua kisah itu, Indonesia menemukan cermin, ambisi perlu keberanian, tetapi keberanian harus dipimpin oleh kebijaksanaan.

Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah menaklukkan gunung, melainkan menaklukkan diri sendiri.

 

 

Komentar