Minggu, 07 Juni 2026 | 18:26
Parodi

Negeri Dipilih Tuhan, Tapi Dikuasai Kartel dan Oligarki

Negeri Dipilih Tuhan, Tapi Dikuasai Kartel dan Oligarki
Ilustrasi negeri dikuasai kartel dan oligarki (Dok Askara/nano)

ASKARA - Kisah Mesir dalam kitab suci bukan dongeng. Itu cermin. Bangsa Israel diperbudak ratusan tahun, diperas tenaganya, dipatahkan harga dirinya. Mereka tidak miskin karena malas, tetapi karena sistem perbudakan membuat mereka mustahil sejahtera.

Lalu Tuhan mengutus Musa.

Indonesia hari ini, kata pengamat spiritual Kanjeng Yoga Hartanto, adalah bangsa yang diberkahi tanda-tanda pilihan, tanah subur, laut luas, posisi strategis, dan kekayaan alam yang luar biasa. Bahkan dalam banyak kajian, Indonesia disebut sebagai salah satu wilayah dengan cadangan mineral terbesar di dunia.

Namun yang menyakitkan, negeri yang diberkahi itu hidup seperti negeri yang dikutuk.

Bukan karena Tuhan pelit. Tetapi karena bangsa ini dijajah oleh bangsanya sendiri.

VOC Pergi, Tapi Kartel Lahir dari Rahim Republik

Kita sering menyalahkan VOC. Tapi VOC sudah lama mati. Yang hidup sampai sekarang adalah cara berpikir VOC, dan itu diwariskan oleh elite kita sendiri.

Dulu penjajahnya asing. Sekarang penjajahnya lebih canggih, memakai jas, memakai jabatan, memakai aturan, memakai stempel negara.

Indonesia tidak lagi dijajah dengan meriam, melainkan dengan izin tambang, konsesi hutan, kuota impor, proyek infrastruktur, regulasi yang bisa dipesan, dan kebijakan yang bisa dinegosiasikan di ruang gelap.

Ini bukan lagi kolonialisme klasik. Ini kolonialisme modern: oligarki + kartel + birokrasi yang disandera.

Kekayaan Alam: Amanah Tuhan yang Disulap Jadi ATM

Secara konstitusi, kekayaan alam dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat.

Tapi dalam praktik, kekayaan alam sering berubah menjadi ATM politik, dana operasional kekuasaan, modal kampanye, dan jaminan bagi oligarki agar tetap berkuasa.

Rakyat diberi narasi "pembangunan." Tapi yang dibangun sering bukan kesejahteraan rakyat, melainkan jalur distribusi kekayaan dari bawah ke atas.

Di sinilah letak tragedinya, Indonesia bukan miskin sumber daya. Indonesia miskin karena kekayaan disedot oleh segelintir.

Perbudakan Modern: Rakyat Jadi Korban, Alam Jadi Tumbal

Dulu Israel diperbudak. Hari ini rakyat Indonesia tidak dibelenggu rantai besi, tapi dibelenggu sistem.

Bentuk perbudakan modern itu nyata, petani menanam, tapi harga ditentukan tengkulak dan kartel, nelayan melaut, tapi lautnya dipagari izin, buruh bekerja, tapi upahnya dikunci, anak muda kuliah, tapi lapangan kerja dimonopoli, rakyat bayar pajak, tapi uangnya bocor.

Sementara alam dibantai, hutan digunduli, sungai diracun, gunung dikeruk, pesisir dikapling, dan tanah adat dijadikan "proyek strategis,"

Lalu ketika banjir, longsor, kebakaran hutan, polusi, dan krisis pangan datang, rakyat disuruh menerima dengan kalimat paling kejam, "Ini bencana alam."

Padahal banyak "bencana" itu bukan alam. Itu bencana keserakahan.

Tulah Modern: Teguran Tuhan atau Akibat Dosa Kolektif?

Mesir dulu diberi tulah karena menolak membebaskan yang tertindas.

Indonesia hari ini tidak diberi tulah berupa sungai berubah darah, tetapi diberi "tulah modern" yang lebih sistemik, banjir di kota yang dibangun tanpa nurani, longsor di tanah yang hutannya dijual, kekeringan di wilayah yang airnya disedot industri, penyakit kronis meningkat karena pangan tak sehat, kemiskinan bertahan di negeri kaya.

Secara ilmiah, semuanya bisa dijelaskan.

Tapi secara spiritual, semuanya juga bisa dibaca sebagai peringatan, jika pemimpin terus menindas rakyat dan merusak alam, maka negeri ini sedang dipaksa bercermin.

Indonesia Menunggu Musa, Tapi Musa Akan Dibunuh Karakter

Pertanyaan Kanjeng Yoga mengguncang, "Mungkinkah bangsa ini sedang menunggu nabi yang diutus Tuhan?"

Namun realitas Indonesia jauh lebih tragis. Bangsa ini bukan menunggu Musa. Bangsa ini sering membunuh Musa sebelum Musa sempat bicara.

Caranya bukan dengan pedang. Caranya dengan fitnah, framing, kriminalisasi, pembusukan reputasi, dan operasi opini.

Siapa pun yang terlalu bersih akan diserang. Siapa pun yang terlalu tegas akan dijatuhkan. Siapa pun yang mengganggu kartel akan dibuat "bermasalah."

Karena kartel dan oligarki tidak takut pada rakyat. Mereka hanya takut pada satu hal, pemimpin yang tidak bisa dibeli.

Negeri Ini Tidak Kekurangan Berkah, Tapi Kekurangan Takut Tuhan

Indonesia mungkin bangsa pilihan. Tapi bangsa pilihan bukan berarti otomatis selamat.

Bangsa pilihan itu seperti tanah subur, kalau ditanam kebaikan, ia jadi panen. kalau ditanam keserakahan, ia jadi racun.

Hari ini, Indonesia sedang diracun oleh korupsi yang jadi sistem, kartel yang jadi raja, oligarki yang jadi penentu, birokrasi yang jadi alat, dan rakyat yang dibuat pasrah.

Jika ini terus dibiarkan, maka Indonesia tidak sedang menuju "tanah perjanjian."

Indonesia sedang berjalan menuju satu kalimat yang paling mengerikan dalam sejarah bangsa:

"Negeri ini hancur bukan karena musuh, tapi karena pengkhianat di dalam."

Dan ketika itu terjadi, jangan bertanya, "Di mana Tuhan?"

Pertanyaannya seharusnya, "Di mana rasa takut kita kepada Tuhan?"

 

 

Komentar