Rabu, 17 Juni 2026 | 23:54
Parodi

Seperti Kacang Lupa Atom

Seperti Kacang Lupa Atom
Ilustrasi seperti kacang lupa atom (Dok Gemini)

ASKARA - Ketika seseorang mengejar jabatan, ia berkata dengan wajah suci:

“Ini demi rakyat.”

Padahal dalam hatinya ada subtitle kecil:
"Demi rakyatasal aku yang duluan."

Jabatan itu seperti sambal.
Sedikit bikin nikmat,
kebanyakan bikin lupa diri,
lalu merasa mulutnya paling benar sedunia.

Begitu ia duduk di kursi empuk, ia mendadak mengalami mukjizat modern:
bisa lupa asal-usul dalam 3 hari kerja.

Dulu ia datang pakai sepatu pinjaman,
sekarang ia melangkah seperti bumi ini miliknya.
Dulu ia rajin menyapa,
sekarang yang menyapa harus bikin janji dulu.

Ia lupa bahwa kursi itu hanya titipan,
bukan warisan kerajaan Majapahit.

Ia lupa bahwa jabatan itu amanah,
bukan alat sulap untuk mengubah kerabat jadi pejabat,
dan kawan jadi komisaris.

Orang tua dulu bilang:
"Seperti kacang lupa kulit."

Tapi zaman sekarang lebih maju.
Lebih canggih.
Lebih futuristik.

Maka pepatah baru pun lahir:

"Seperti kacang lupa atom."

Saking lupanya, bukan cuma kulit yang hilang…
unsur-unsur kimianya ikut menguap.

Ia lupa siapa yang dulu menolongnya,
lupa siapa yang dulu mengangkatnya,
lupa siapa yang dulu membelanya,
bahkan lupa siapa yang dulu meminjamkan mic saat kampanye.

Yang ia ingat cuma dua hal:

  1. Nama di papan kantor
  2. Foto dirinya yang harus selalu tampak "merakyat"

Ia mulai percaya bahwa kritik adalah kutukan,
dan pujian adalah vitamin.
Maka ia pun hidup dari pujian,
dan alergi terhadap kebenaran.

Dan ketika masa jabatan selesai,
ia marah.
Ia kecewa.
Ia merasa dizalimi sejarah.

Padahal jabatan itu bukan pasangan sah.
Jabatan itu cuma singgah.
Kalau terlalu dicintai,
nanti sakitnya seperti ditinggal tanpa pesan.

Akhirnya ia pulang ke rumah,
memandang cermin,
dan bertanya:

"Siapa saya sebenarnya?"

Cermin pun menjawab dengan tenang:

"Kamu dulu manusia.
Tapi sejak menjabat, kamu jadi brosur."

Komentar