Senin, 08 Juni 2026 | 11:38
NEWS

Rektor Paramadina Berduka, Kenang Agus Widjojo sebagai Jenderal Intelektual

Rektor Paramadina Berduka, Kenang Agus Widjojo sebagai Jenderal Intelektual
Alm. Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo (Dok Panca)

ASKARA - Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Jenderal (Purn.) Agus Widjojo pada Minggu malam, 8 Februari 2026. Prof. Didik menyebut kepergian almarhum sebagai kehilangan besar bagi bangsa, terutama dalam tradisi pemikiran strategis militer Indonesia.

Dalam keterangannya, Senin (9/2), Prof. Didik mengenang Agus Widjojo sebagai figur langka: seorang jenderal yang tidak hanya kuat dalam pengalaman lapangan, tetapi juga fasih dalam pemikiran politik dan militer. Menurutnya, almarhum adalah contoh nyata “jenderal intelektual” yang jarang muncul dalam sejarah TNI.

Prof. Didik mengungkapkan kedekatan mereka sudah terjalin sejak awal 1990-an. Saat itu keduanya terlibat dalam perancangan Seminar Angkatan Darat II di Bandung, sebuah forum penting yang kemudian dikenal sebagai salah satu tonggak perubahan internal di tubuh TNI menjelang era reformasi.

Ia menilai Agus Widjojo sangat konsisten memperjuangkan profesionalisme militer dan supremasi sipil. Prof. Didik bahkan menyebut almarhum sebagai arsitek intelektual utama dalam proses pengakhiran era Dwifungsi ABRI pada masa transisi reformasi.

Menurut Prof. Didik, pemikiran Agus Widjojo selalu jernih dan argumentatif. Almarhum meyakini bahwa keterlibatan militer dalam politik praktis hanya akan melemahkan profesionalisme TNI, sebab militer yang kuat seharusnya tumbuh dari sistem demokrasi yang sehat, bukan dari kekuasaan pragmatis.

Selain itu, Prof. Didik juga menyoroti peran Agus Widjojo saat memimpin Lemhannas RI sebagai gubernur. Di bawah kepemimpinannya, Lemhannas dinilai berkembang menjadi dapur pemikiran strategis negara yang mampu menjembatani dialog sehat antara kalangan militer dan intelektual sipil.

Prof. Didik menegaskan, bagi Agus Widjojo, militer harus tunduk sepenuhnya pada konstitusi dan hukum sebagai alat pertahanan negara. Sementara kekuasaan politik, menurut almarhum, harus berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis.

Kepergian Agus Widjojo, kata Prof. Didik, meninggalkan ruang kosong dalam jajaran perwira intelektual Indonesia. Ia menyejajarkan almarhum dengan tokoh-tokoh besar seperti Sajidiman Suryohadiprodjo hingga Susilo Bambang Yudhoyono, sekaligus menyayangkan bahwa figur perwira dengan kapasitas intelektual sekomprehensif Agus Widjojo semakin sulit ditemukan pada generasi saat ini.

 

 

Komentar