Aitumieri: Akar Modernitas Papua
Oleh: Prof. Ismunandar Ph.D
Aitumieri: Akar Modernitas Papua
Ada sebuah rekor pribadi yang akhirnya pecah tahun ini: rekor seumur hidup belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Papua. Absennya Papua dalam daftar riwayat perjalanan saya selalu terasa seperti ada potongan teka-teki yang hilang. Namun, penantian itu terbayar tuntas melalui undangan istimewa dari Prof. Charlie Dany Heatubun, Kepala BRIDA Papua Barat, untuk menghadiri gelaran bergengsi 12th International Flora Malesiana Symposium dan International Nature-Based Climate Solutions Conference.
Pukul 08.00 WIT, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan setelah penerbangan hampir enam jam yang sempat transit di Sorong. Begitu pintu pesawat terbuka, udara pagi Papua menyambut dengan kehangatan yang khas. Destinasi pertama kami bukan hotel untuk beristirahat, melainkan sebuah tempat bernama Kafe Mansinam.
Mansinam: Lebih dari Sekadar Nama
Duduk di Kafe Mansinam sambil menyesap kopi, nama "Mansinam" sendiri seolah membisikkan narasi besar tentang sejarah. Bagi masyarakat lokal, Mansinam bukan sekadar titik geografis; ia adalah rahim peradaban modern di Tanah Papua.
Sambil menikmati suasana, saya teringat pada catatan penting dalam buku terbaru berjudul "Bukit Aitumieri: Tapak Awal Berdirinya Sekolah Moderen di Tanah Papua" yang baru saja diterbitkan oleh Balai Pelindungan Kebudayaan wil XXIII (Papua Barat dan Papua Barat Daya, KemBud). Buku ini mengupas tuntas mengapa tempat-tempat seperti Mansinam dan Bukit Aitumieri begitu sakral bagi identitas orang Papua.
Semuanya bermula pada 5 Februari 1855. Dua penginjil Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, mendarat di pantai pasir putih Pulau Mansinam. Kalimat legendaris mereka, "In gottes namen betreten wir das land" (Dalam nama Allah kami menginjakkan kaki di tanah ini), menjadi lonceng pembuka bagi perubahan besar. Mereka tidak hanya datang membawa kitab suci, tapi juga membawa konsep pendidikan Barat yang paling awal di wilayah ini. Tidak heran 5 Februari selalu menjadi peringatan penting warga sini.
Dari Mansinam Menuju Bukit Aitumieri
Jika Mansinam adalah pintu masuk, maka Bukit Aitumieri di Wondama adalah ruang kelas tempat karakter bangsa Papua ditempa. Pada tahun 1923, muncul sosok Izaak Samuel Kijne. Ia sadar bahwa untuk memajukan anak-anak asli Papua, diperlukan lingkungan yang kondusif, jauh dari dominasi dan keterbatasan sarana.
Pada Oktober 1925, Kijne memindahkan pusat pendidikan ke Bukit Aitumieri. Di sana, ia mendirikan sekolah asrama (internat) yang menyatukan berbagai suku. Di bukit inilah, gagasan tentang "Kepapuaan" mulai tumbuh. Kijne bahkan menulis lagu "Hai Tanahku Papua" untuk menanamkan rasa cinta tanah air yang mendalam.
Jejak sejarah ini masih tegak berdiri hingga kini dalam bentuk, i. Batu Peradaban: Tempat Kijne bernubuat bahwa bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri, ii. Batu Inspirasi: Titik di mana syair-syair lagu rohani yang melegenda tercipta, iii. Monumen Modern: Mulai dari patung Yesus raksasa di Jayapura hingga Menara Salib di Wamena, semuanya adalah gema dari pendaratan pertama di Mansinam.
Membaca sejarah Aitumieri sambil berada langsung di tanah ini memberikan perspektif yang berbeda. Buku tersebut mengingatkan kita bahwa kemajuan Papua hari ini—termasuk konferensi internasional yang saya hadiri—adalah buah dari dedikasi pendidikan yang dimulai dengan sangat sederhana di pesisir pantai dan perbukitan sunyi.
Bagi saya, perjalanan ini bukan sekadar memecahkan rekor kunjungan, melainkan sebuah ziarah pemikiran. Papua bukan hanya tentang kekayaan alam yang melimpah, tapi tentang ketangguhan spiritual dan intelektual yang akarnya tertanam jauh di Mansinam dan Aitumieri.

Komentar