Kamis, 04 Juni 2026 | 05:35
NEWS

Baret ICMI Gagas Sabil, Sekolah Alam Berbasis Eko-Teologi di Linge

Baret ICMI Gagas Sabil, Sekolah Alam Berbasis Eko-Teologi di Linge
Rapat Koordinasi Badan Otonom ICMI (Dok Mubarak)

ASKARA - Badan Reaksi Cepat (Baret) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menggagas program Sabil atau Sekolah Alam Baret ICMI Linge sebagai model pendidikan inovatif berbasis kearifan lokal yang mengintegrasikan penguatan karakter, kesadaran lingkungan, serta mitigasi kebencanaan.

Program tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi badan otonom ICMI yang digelar di ICMI Center. Rapat dipimpin Wakil Ketua MPP ICMI, DR Priyo Budi Santoso, dan dihadiri perwakilan berbagai badan otonom ICMI. Turut hadir Ketua DPW Baret ICMI Aceh, Zam Zam Mubarak.

Ketua Baret ICMI, Lili Erawati, dalam pemaparannya menyebut Sabil dirancang untuk mendekatkan potensi diri generasi muda dengan potensi sumber daya alam di wilayah Linge, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi ancaman bencana.

Menurut Lili, konsep Sabil tidak hanya menekankan kecerdasan akademis, tetapi juga membangun kesadaran ekologis dan kemampuan adaptasi masyarakat terhadap risiko kebencanaan.

“Dengan Sabil, kami ingin menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kesadaran lingkungan dan kemampuan menghadapi bencana,” ujarnya.

Linge Disebut Episentrum Peradaban Aceh

Dalam rapat tersebut, Lili juga menekankan pentingnya perhatian serius terhadap wilayah Linge yang dinilai memiliki nilai historis dan strategis dalam jalur peradaban Islam di Nusantara.

“Linge perlu mendapat perhatian serius karena salah satu bagian jalur peradaban Islam di Nusantara. Linge wilayah yang terisolir sebelum bencana Aceh terjadi. Kondisi ini menggugah perhatian pasca bencana saat ini. Linge tidak bisa dibiarkan terisolasi karena Linge adalah epicentrum peradaban Aceh,” tegasnya.

Ia menilai, pendidikan berbasis kearifan lokal melalui Sabil dapat memperkuat identitas budaya masyarakat setempat sekaligus mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat Linge dan Aceh secara umum.

Sarana Edukasi Eko-Teologi

Baret ICMI menargetkan Sabil menjadi sarana edukasi eko-teologi yang efektif, yakni pendidikan yang mengaitkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mitigasi bencana, pengelolaan lingkungan, serta penguatan kapasitas warga di wilayah rawan.

Lili menambahkan, Aceh memiliki potensi multi hazard sehingga dibutuhkan program terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk pendidikan yang menyentuh akar persoalan di tingkat masyarakat.

Dengan program Sabil, Baret ICMI berharap lahir model pendidikan berbasis alam yang tidak hanya menumbuhkan kecintaan pada lingkungan, tetapi juga membangun kesiapsiagaan bencana secara berkelanjutan.

 

 

Komentar