Rabu, 17 Juni 2026 | 17:17
NEWS

Transformasi Transmigrasi 2026, Johanes Gebze Dorong Model Papua Selatan

Transformasi Transmigrasi 2026, Johanes Gebze Dorong Model Papua Selatan
Johanes Gluba Gebze menyampaikan pandangan dalam Town Hall Meeting Transformasi Transmigrasi Tahun 2026 di Kantor Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Dok Askara)

ASKARA - Drs. Johanes Gluba Gebze hadir dan menyampaikan pandangan dalam Town Hall Meeting Transformasi Transmigrasi Tahun 2026 di Kantor Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Dalam forum tersebut, Johanes menegaskan transformasi transmigrasi bukan program yang berdiri sendiri, melainkan penajaman dari pengalaman panjang transmigrasi yang telah dilakukan para pendahulu.

“Ada pembelajaran yang sudah kita dapatkan. Ini program penajaman dari apa yang sudah dilakukan para pendahulu kita,” ujarnya.

Johanes, yang berasal dari Merauke, salah satu daerah penerima transmigrasi terbesar di Papua, mengatakan dirinya kini dipercaya untuk menjadi jembatan komunikasi antara daerah terjauh dengan pemerintah pusat. Menurutnya, komunikasi yang kuat diperlukan agar kebijakan benar-benar implementatif dan tidak membuat Papua terus menjadi persoalan yang tak selesai.

“Saat ini saya dipercayakan Bapak Presiden untuk konsultasi, menjadi jembatan komunikasi antara daerah terjauh, sehingga kebijakan yang hadir bisa implementatif. Jangan Papua menjadi masalah bangsa yang tidak habis,” tegasnya.

Mantan Bupati Merauke dua periode itu juga menilai transmigrasi memiliki keunikan historis karena pernah menjadi cara negara menghadirkan “suara Indonesia” di wilayah-wilayah yang sebelumnya sepi.

“Kesunyian di tempat-tempat itu harus ada suara Indonesia yang terdengar,” katanya.

Ia mendorong agar transformasi transmigrasi dilakukan melalui kolaborasi, termasuk mengajak warga lokal menjadi satu kesatuan manajemen pembangunan agar tidak timbul rasa terpisah.

“Warga lokal jangan berpikir pemerintah datang membawa sesuatu yang terpisah. Ajak mereka dalam satu kesatuan manajemen,” ujarnya.

Johanes menyebut wilayah Salor yang kini menjadi pusat pemerintahan Provinsi Papua Selatan berpeluang menjadi model kota satelit baru berbasis potensi lokal. Ia mencontohkan pengembangan wilayah melalui subsektor unggulan, seperti pertanian di Salor, perkebunan, serta perikanan di wilayah lain seperti Wanam.

“Pendekatan potensi keunggulan daerah setempat membuat modal tidak terlalu besar, tapi hasilnya bisa maksimal,” katanya.

Johanes juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi untuk menopang kampus-kampus lokal melalui pendampingan SDM dan inovasi.

Di akhir pandangannya, ia menegaskan Indonesia memiliki modal besar berupa jumlah penduduk yang tinggi, yang harus dioptimalkan sebagai kekuatan pembangunan.

“Tidak ada manusia yang tidak berkompeten. Justru kita optimalkan kelebihan penduduk ini untuk membangun Indonesia Raya yang jaya,” pungkasnya.

 

Komentar