Rabu, 22 Juli 2026 | 04:45
OPINI

Misteri Usia Bumi: Adam, Jin, dan Jejak Purba

Misteri Usia Bumi: Adam, Jin, dan Jejak Purba
Ilustrasi misteri jin, dan jejak purba (Dok Askara)

Oleh: I Reksohardjo

Ada satu pertanyaan besar yang selalu mengusik: seberapa tua sebenarnya peradaban manusia di bumi? Dan lebih jauh lagi, apakah semua jejak purba yang kita temukan hari ini benar-benar murni “produk manusia modern”, atau ada lapisan sejarah yang lebih tua, yang tak tercatat dalam buku-buku arkeologi arus utama?

Dalam beberapa riwayat para ulama dan kisah-kisah yang dinukil dari tradisi klasik, disebutkan bahwa Nabi Adam tidak hanya satu, melainkan ada seratus Adam yang diturunkan ke bumi dalam rentang waktu sekitar 70.000 tahun. Dari seratus itu, 99 diturunkan seorang diri, tanpa pasangan Siti Hawa. Sedangkan Adam terakhir, yang dikenal luas dalam tradisi umat Islam, diturunkan bersama Hawa, lalu menjadi awal dari garis keturunan manusia yang berkembang biak.

Jika riwayat tersebut dijadikan kerangka pembacaan, maka Adam terakhir diperkirakan hidup sekitar 5.872 SM hingga 4.942 SM, dengan rentang umur sekitar 930 tahun. Dengan begitu, jika rentang “70.000 tahun” tadi dihitung mundur, maka Adam pertama diperkirakan hadir sekitar 69.070 SM.

Pada fase sangat panjang itu, dari 69.070 SM hingga 4.942 SM, narasi spiritual menyebut bahwa bumi belum sepenuhnya menjadi “dunia manusia” seperti yang kita pahami hari ini. Masih ada interaksi fisik flesh and blood antara manusia awal, kaum jin, bahkan figur Azazil yang dalam tradisi tertentu disebut sebagai makhluk dari bangsa malaikat yang turun ke bumi karena meminta izin untuk memerangi kaum perusak bumi.

Artinya, sebelum Adam terakhir diturunkan, bumi sudah dihuni oleh entitas lain. Dan jika benar demikian, maka peradaban bumi tidak bisa dibaca hanya dari sudut pandang manusia modern saja, melainkan sebagai ruang konflik, migrasi, dan pergulatan antar makhluk.

Setelah Adam terakhir memiliki keturunan, lahirlah Nabi Syits. Dalam kisah-kisah yang dinukil, Syits lahir sekitar seratus tahun setelah peristiwa pembunuhan Habil oleh Qabil. Qabil disebut bersekutu dengan kaum jin, dan sejak saat itu, konflik tidak hanya terjadi di antara manusia, tetapi juga melibatkan dua dunia: manusia dan jin.

Dalam rangkaian peperangan itu, pada akhirnya Qabil dikisahkan terbunuh. Lalu muncul satu titik balik yang penting: Nabi Syits memohon kepada Tuhan agar dua dunia dipisahkan, agar manusia tidak lagi hidup dalam gangguan dan interaksi terbuka dengan kaum jin. Peristiwa pemisahan itu diperkirakan terjadi sekitar 4.542 SM.

Sejak saat itulah, menurut opini ini, dunia manusia dan dunia jin tidak lagi berinteraksi secara langsung. Jika pun ada interaksi, ia bersifat terbatas, tidak terbuka, dan tidak menjadi norma kehidupan sehari-hari. Dan yang lebih penting: sebelum pemisahan itu, kaum jin dan makhluk lain masih dianggap memiliki bentuk fisik. Maka, jejak kerangka, tulang-belulang, dan sisa tubuh dari masa itu kemungkinan masih ada, bercampur dengan fosil-fosil makhluk purba lain yang kita temukan hari ini.

Di titik ini, muncul hipotesis yang menarik: bagaimana jika sebagian “temuan purba” yang selama ini kita kategorikan sebagai fosil manusia purba—atau bahkan makhluk prasejarah—sebenarnya merupakan jejak dari fase dunia sebelum pemisahan? Termasuk fosil-fosil yang sering disebut seperti pithecanthropus, homo sapiens, dan berbagai bentuk lain yang diklaim hidup jauh sebelum sejarah manusia modern.

Kemudian, masuk pada bagian yang sering menjadi sumber perdebatan: penelitian karbon. Banyak situs purba seperti lukisan gua, struktur megalitik, bahkan piramida, sering diperdebatkan usianya. Ada yang menyebut 20.000 SM, 40.000 SM, bahkan lebih tua. Lalu muncul pertanyaan: apakah benar pengerjaan manusianya setua itu?

Dalam opini ini, jawabannya bisa jadi: iya dan tidak.

Bisa jadi benar usia yang sangat tua itu, tetapi yang diukur karbonnya adalah bahan objek, misalnya batu, dinding gua, atau material yang memang berasal dari zaman jauh lebih purba, bukan usia pengerjaannya. Batu atau dinding gua jelas lebih tua daripada aktivitas manusia yang melukis atau memahatnya.

Dengan kata lain, penelitian karbon mungkin benar dalam konteks “usia material”, namun tidak otomatis berarti “usia peradaban yang mengerjakan”.

Jika kerangka ini dipakai, maka klaim bahwa piramida Giza berasal dari 40.000 SM atau Gunung Padang dari 20.000 SM tidak harus ditolak mentah-mentah. Ia mungkin benar untuk batu dan lapisan geologinya. Tetapi pengerjaan, penataan, dan aktivitas manusia yang membentuk struktur itu bisa jadi terjadi jauh lebih muda, misalnya pada rentang setelah Adam terakhir diturunkan, atau bahkan setelah pemisahan dua dunia pada masa Nabi Syits.

Akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan: ada wilayah sejarah yang tidak bisa sepenuhnya diselesaikan oleh laboratorium, dan ada wilayah iman yang tidak bisa dipaksakan menjadi data. Di sinilah akal diminta menunduk, bukan untuk berhenti berpikir, melainkan untuk mengakui bahwa misteri adalah bagian dari realitas.

Semoga opini ini menjadi bahan renungan, membuka ruang diskusi yang lebih luas, dan memberi pencerahan bagi siapa pun yang ingin membaca masa bumi dengan cara yang lebih dalam.

Aamiin.

 

Komentar