Rabu, 22 Juli 2026 | 05:14
Parodi

Setelah Retret Bela Negara, Wartawan Bertanya: Kapan Negara Bela Kehidupan Kami?

Setelah Retret Bela Negara, Wartawan Bertanya: Kapan Negara Bela Kehidupan Kami?
Wartawati anggota PWI ketika ikut Retret Bela Negara (Dok Kemhan)

ASKARA - Pulang dari retret bela negara, para wartawan kini hafal barisan, tahu cara hormat, dan paham makna ancaman nonmiliter. Topi sudah pas, sepatu sudah lurus, mental sudah 'siap tempur'. Tinggal satu yang belum jelas: siapa yang membela kehidupan wartawan setelah latihan usai?

Di ruang redaksi, tak ada apel pagi. Yang ada target klik, tenggat jam tayang, dan honor yang datangnya kadang seperti sinyal di daerah terpencil, ada, tapi sering hilang. Bela negara diajarkan dengan disiplin tinggi, sementara bela dapur wartawan masih bersifat opsional.

Wartawan diminta tangguh menghadapi disinformasi, tapi ketika gaji telat atau kontrak diputus sepihak, negara mendadak senyap. Ancaman ideologi ditangani serius, namun ancaman isi kulkas kosong masih dianggap urusan pribadi.

Dalam modul bela negara, disebutkan pers adalah pilar demokrasi. Sayangnya, pilar ini sering berdiri di tanah yang rapuh, tanpa jaminan keselamatan, tanpa perlindungan kerja layak, dan tanpa kepastian masa depan. Pilar kuat, tapi pondasinya cicil.

Maka wajar jika muncul pertanyaan parodis tapi getir, kalau wartawan sudah bela negara, kapan negara bela kehidupan wartawan?
Bukan dengan upacara. Bukan dengan slogan. Cukup dengan upah layak, perlindungan hukum, dan rasa aman saat bekerja, serta insentif dari negara.

Karena wartawan yang perutnya kosong mungkin masih bisa menulis, tapi wartawan yang hidupnya diabaikan lama-lama bisa lupa, negara yang mana sedang ia bela?

 

 

Komentar