Raja Ampat Bukan Jalur Biasa, Capt. Hakeng Dorong Pengetatan Navigasi
ASKARA - Pengamat Maritim Indonesia dari IKAL Strategic Center (ISC), DR. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, menegaskan perlunya pengetatan sistem navigasi di perairan Raja Ampat guna melindungi kawasan yang menjadi pusat biodiversitas terumbu karang dunia.
Menurut Capt. Hakeng, meningkatnya lalu lintas kapal, khususnya kapal pesiar internasional, memperbesar risiko kecelakaan laut seperti insiden MV Caledonian Sky (2017) yang merusak ribuan meter persegi terumbu karang. Ia menilai Raja Ampat tidak bisa diperlakukan sebagai jalur pelayaran umum tanpa pengawasan ketat.
Ia mengidentifikasi tiga persoalan utama, yakni ketidakakuratan peta navigasi elektronik, minimnya sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) di jalur kritis, serta belum ditetapkannya Raja Ampat sebagai Particularly Sensitive Sea Area (PSSA) oleh IMO.
Untuk mencegah kecelakaan berulang, Capt. Hakeng mengusulkan lima langkah strategis: pemanduan wajib kapal besar, operasionalisasi Vessel Traffic Services (VTS), penyediaan kapal tunda siaga, digitalisasi SBNP berbasis AIS, serta penyelarasan regulasi nasional dengan konvensi internasional.
“Melindungi Raja Ampat berarti menjaga kedaulatan maritim dan martabat ekosistem Indonesia. Ini membutuhkan sistem navigasi yang tegas, bukan sekadar narasi konservasi,” tegasnya.

Komentar