Menhan Bongkar Pertemuan Prabowo dan Tokoh Oposisi
ASKARA - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengungkap adanya pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh nasional yang selama ini kerap dipersepsikan berada di luar lingkar kekuasaan. Pertemuan tersebut disebut berlangsung pada Jumat (30/1) dan membahas kondisi bangsa serta arah pengelolaan negara ke depan.
Hal itu disampaikan Sjafrie saat memberikan pembekalan kepada anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam kegiatan retret di Pusat Kompetensi Bela Negara BPSDM Pertahanan, Cibodas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurutnya, pertemuan tersebut mencerminkan upaya Presiden membangun komunikasi lintas kubu politik.
Sjafrie menyebut Presiden Prabowo mengajak para tokoh nasional untuk bersikap realistis dalam melihat tantangan negara dan berkontribusi secara bersama-sama dalam pembenahan tata kelola pemerintahan. Dalam pertemuan itu, kata Sjafrie, semangat yang dibangun bukan konfrontasi, melainkan kolaborasi.
“Tokoh-tokoh nasional itu sudah menyampaikan bahwa tidak ada lagi oposisi. Yang ada adalah bagaimana komunikasi dibangun demi kepentingan bangsa,” ujar Sjafrie, menegaskan bahwa dialog menjadi kunci utama meredam polarisasi politik.
Ia menilai persoalan utama yang selama ini terjadi bukan pada perbedaan sikap politik, melainkan pada tersendatnya komunikasi. Dengan terbukanya ruang dialog, Sjafrie meyakini ketegangan politik dapat dikelola secara lebih sehat dan produktif.
Dalam kesempatan tersebut, Sjafrie juga menyoroti peran strategis insan pers dalam menjaga stabilitas nasional. Ia meminta wartawan turut membantu negara melalui pemberitaan yang informatif, berimbang, dan tidak menutup-nutupi realitas yang dapat berdampak pada kepentingan rakyat.
“Kita harus jujur melihat keadaan. Menyampaikan fakta apa adanya justru bagian dari upaya menyelamatkan bangsa,” kata Sjafrie di hadapan peserta retret PWI, Sabtu (31/1).
Selain membahas dinamika politik nasional, Menhan juga memberikan penguatan mengenai pentingnya bela negara sebagai fondasi ketahanan nasional. Ia menegaskan bahwa bela negara bukan semata urusan militer, melainkan tanggung jawab seluruh warga negara, termasuk insan pers sebagai garda sipil di ruang informasi.
Sjafrie menutup arahannya dengan mendorong PWI untuk terus konsisten mengawal kedaulatan dan keutuhan NKRI, khususnya di tengah tantangan era digital yang sarat disinformasi dan polarisasi opini publik.

Komentar