Pendakian Tektok Kian Tren, Elpala Ingatkan Risiko dan Kedisiplinan Keselamatan
ASKARA - Tren pendakian tektok atau naik-turun gunung dalam satu hari kian diminati pendaki, terutama kalangan muda dan pekerja urban yang memiliki keterbatasan waktu. Namun, para pendaki berpengalaman mengingatkan bahwa praktik ini menuntut kesiapan fisik, perencanaan matang, serta disiplin tinggi terhadap keselamatan.
Pendaki dari klub pencinta alam Elpala, Agus Senato, menjelaskan bahwa pendakian tektok bukan sekadar mempersingkat waktu mendaki, tetapi juga meningkatkan beban fisik dan mental pendaki dalam satu rentang waktu yang padat.
“Secara konsep tektok itu sah-sah saja. Tapi yang sering dilupakan, tubuh dipaksa bekerja penuh dari naik sampai turun tanpa recovery. Banyak kecelakaan terjadi bukan karena gunungnya, tapi karena pendakinya salah menghitung kemampuan,” kata Agus, Kamis (22/1).
Menurut Agus, yang juga anggota Mahupa Untar, perbedaan paling mendasar antara pendakian tektok dan pendakian konvensional terletak pada manajemen waktu dan energi. Pada pendakian konvensional, pendaki memiliki waktu istirahat dan aklimatisasi, sementara pada tektok semua tahapan dipadatkan.
Pendaki Elpala lainnya, Taufan Novriyanda, menekankan bahwa pendakian tektok boleh dilakukan, asal memenuhi syarat keselamatan tertentu. Ia menyinggung data kecelakaan pendakian di Indonesia yang mayoritas disebabkan kelelahan, tersesat saat turun, dan keputusan memaksakan diri.
“Statistik kecelakaan menunjukkan faktor manusia paling dominan. Kelelahan, salah navigasi, dan terlambat turun sering berujung evakuasi. Jadi tektok itu boleh, asal gunungnya tepat, fisiknya siap, dan tahu kapan harus berhenti,” ujar Taufan yang juga tergabung di Mapala UI.
Taufan menilai tidak semua gunung cocok untuk tektok. Jalur panjang, minim sumber air, atau rawan cuaca ekstrem sebaiknya dihindari untuk pendakian pulang-pergi sehari, terutama oleh pendaki pemula.
Terkait persiapan, kedua pendaki Elpala sepakat bahwa fisik adalah kunci utama. Latihan kardio, penguatan otot kaki, dan pembiasaan jalan jauh perlu dilakukan jauh hari sebelum tektok. Selain itu, perlengkapan tetap harus lengkap meski tanpa bermalam.
“Banyak yang salah kaprah, karena tektok lalu bawaannya minim. Padahal headlamp, jas hujan, P3K, air dan makanan berenergi tinggi itu wajib. Turun sore atau kena kabut itu sering terjadi,” kata Agus.
Dari sisi teknik dan manajemen pendakian, Taufan menegaskan pentingnya disiplin waktu. Pendaki harus memiliki target puncak dan batas waktu turun yang tegas.
“Kalau lewat dari waktu yang ditentukan, putar balik. Puncak itu bonus, pulang selamat itu tujuan,” ujarnya.
Soal navigasi, Elpala mengingatkan risiko klasik “bisa pergi, tidak bisa pulang”. Jalur yang jelas saat naik bisa menipu saat turun, terutama dalam kondisi lelah.
“Pendaki harus paham jalur, bawa alat navigasi, dan jangan ragu bertanya di basecamp. Tersesat itu sering terjadi justru di jalur turun,” kata Agus.
Sebagai tambahan, Elpala mendorong pendaki tektok untuk selalu melapor ke pengelola gunung, memperhatikan prakiraan cuaca, serta mendaki secara berkelompok. Pendakian tektok, menurut mereka, bukan soal kecepatan atau gaya, melainkan soal pengambilan keputusan yang benar.
“Gunung tidak ke mana-mana. Yang penting pendaki pulang dengan selamat,” tutup Taufan.

Komentar