Kamis, 04 Juni 2026 | 07:15
NEWS

Libatkan 1.075 Personel

Menembus Jurang 350 Meter, Pasukan SAR Berpacu dengan Alam Demi Kemanusiaan

Menembus Jurang 350 Meter, Pasukan SAR Berpacu dengan Alam Demi Kemanusiaan
Tim SAR gabungan dari berbagai unsur, Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga komunitas pecinta alam ketika melakukan evakuasi korban (Dok Basarnas)

ASKARA - Kabut turun cepat di perbukitan Maros, Pangkep sore itu. Hujan rintik mengaburkan pandangan, sementara jurang sedalam ratusan meter menganga di bawah kaki para personel SAR. Namun tak satu pun mundur. Di tengah medan ekstrem itulah, misi kemanusiaan kembali diuji.

Sebanyak 1.075 personel SAR gabungan dari berbagai unsur, Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga komunitas pecinta alam, berpacu dengan waktu dan alam dalam operasi pencarian pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar yang hilang kontak. Mereka bekerja tanpa jeda, siang dan malam, dengan satu tujuan: menemukan dan mengevakuasi para korban.

Sore Selasa (20/1/2026), kerja keras itu membuahkan hasil. Korban kedua, seorang perempuan, berhasil dievakuasi dari kedalaman jurang sekitar 350 meter. Prosesnya tidak singkat. Tim vertical rescue harus turun perlahan, mengandalkan tali, carabiner, dan ketepatan koordinasi, sementara hujan dan kabut terus menguji konsentrasi.

"Medannya sangat ekstrem. Setiap langkah harus dihitung. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal," ujar Muhammad Arif Anwar, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC).

Enam Search and Rescue Unit (SRU) dikerahkan secara simultan. Ada yang menyisir lembah, ada yang bertugas di tebing curam, sementara tim udara memantau dari atas menggunakan helikopter dan drone thermal. Di bawah tekanan cuaca dan kelelahan fisik, koordinasi lintas unsur menjadi kunci utama.

Evakuasi dilakukan bertahap. Dari dasar jurang menuju titik aman, lalu perlahan dinaikkan ke punggungan. Proses ini memakan waktu berjam-jam. Saat korban akhirnya tiba di atas, senyap sejenak menyelimuti lokasi—bukan karena lelah, tetapi karena rasa hormat.

"Ini bukan sekadar operasi teknis. Ini soal kemanusiaan," kata Arif dengan suara tertahan. Korban kemudian dibawa menuju Posko Tompobulu untuk diserahkan kepada tim DVI.

Di balik rompi oranye dan seragam loreng itu, para personel SAR adalah manusia biasa, yang menahan dingin, lapar, dan rindu keluarga. Namun demi tugas, mereka memilih tetap berdiri di garis depan, menghadapi alam yang tak pernah bisa ditebak.

Operasi SAR masih berlanjut. Jurang, hujan, dan kabut belum sepenuhnya bersahabat. Tapi satu hal pasti: selama masih ada harapan, pasukan kemanusiaan ini akan terus bergerak, menantang batas demi satu nyawa, demi satu tugas mulia.

 

Komentar